Minggu, 12 Juni 2011
Pesan Nurdin Khalid untuk Kongres PSSI
Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia Pusat, Nurdin Halid mengharapkan kongres luar biasa Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) di kota Solo pada 9 Juli mendatang berhasil demi masa depan sepakbola Indonesia.
"Kita harap kongres luar biasa PSSI yang diagendakan 9 Juli mendatang di Solo tidak lagi ada istilah deadlock," kata Nurdin Halid di Mamuju, Sabtu (11/6).
Menurut dia, kongres PSSI yang dipimpin langsung ketua normalisasi Agum Gumelar yang akhirnya gagal, karena kelompok 78 terus mengusung calon ketua umum George Toisuta dan Arifin Panigoro.
"Saya tidak mau mencampuri masalah keinginan kelompok 78. Namun, saya sangat menghendaki agar kongres PSSI ini berjalan lancar, aman dan menghasilkan keputusan yang baik untuk masa depan generasi para atlet-atlet sepakbola di negeri ini," harap Nurdin.
Nurdin mengatakan, dirinya masih tetap ketua PSSI yang resmi hingga terbentuknya pengurus yang baru hasil kongres mendatang.
"Memang saya tidak lagi dianggap sebagai pengurus resmi. Namun begitu, hasil kongres ini tetap resmi karena saya ikhlas menerimanya untuk masa depan persepakbolaan di Indonesia," tutur Nurdin.
Karena itu, mundurnya kongres luar biasa PSSI tersebut karena alasan atas pertimbangan setelah adanya masukan dari Asian Football Confederation (AFC) di Kuala Lumpur dan hasilnya telah dilaporkan ke FIFA.
Nurdin mengatakan, dirinya yang banyak dikecam oleh berbagai elemen masyarakat untuk mundur dari ketua umum PSSI tetap ikhlas menerima karena Tuhan akan menunjukkan kebenaran.
"Tidak apa-apa saya diperlakukan seperti itu dan bahkan dituduh berbuat korupsi anggaran PSSI karena semua kebenaran akan diperlihatkan oleh Tuhan," ucapnya.
Ia berharap, siapa pun pengurus PSSI mendatang agar memiliki visi dan misi yang jelas akan nasib dan perkembangan sepakbola di tanah air.
"Sepakbola salah satu cabang olahraga yang sangat diminati oleh masyarakat di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Nah, jika kongres PSSI gagal maka bisa jadi rakyat Indonesia marah karena nasib persepakbolaan akan semakin terpuruk," katanya.
BACA SELENGKAPNYA..
Jumat, 10 Juni 2011
Toraja merupakan salah satu cluster destinasi yang di tahun 2011 ini diprogramkan untuk dibentuk di Toraja
Dalam rangka pelaksanaan program DMO (Destination Management Organisation), tim Cluster Toraja telah mengadakan pertemuan awal dengan stakeholder kepariwisataan Toraja yaitu Kadisbudpar Provinsi Sulawesi Selatan, Kadisbudpar Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara beserta stafnya yang terkait.
Pertemuan dengan Kadisbudpar Provinsi Sulawesi Selatan, Bapak MS. Mallambossi diadakan di Makassar pada tanggal 2 Maret 2011 bertempat di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan. Rombongan tim Cluster Toraja dipimpin oleh Bapak Aris Sitaba, Direktur Usaha Pariwisata, Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kemenbudpar, dan ketua Tim Cluster Toraja Bapak Setiawan, yang didampingi oleh Ir. Ina Herliana Koswara MSc., Undhan Sensivari dan Stella Veronika. Hadir pada pertemuan tersebut Bapak Andy M Said -Ketua Badan Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Provinsi Sulawesi Selatan beserta stafnya.
Pertemuan diawali dengan laporan dan penjelasan singkat tentang program DMO Cluster Toraja oleh Bapak Aris Sitaba, yang sekaligus memperkenalkan anggota tim, dan kegiatan yang akan dilakukan oleh tim dalam pelaksanaan program DMO ini. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan keinginan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata akan dukungan dari Provinsi Sulsel khususnya terkait pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Provinsi yang akan mendukung program DMO ini, maupun kelengkapan data dan informasi yang dibutuhkan tim dalam melaksanakan program DMO di Cluster Toraja.
Kadisbudpar Provinsi Sulsel Bapak Suaib Mallambossi menyambut baik kedatangan tim dan sangat mendukung program ini. Diharapkan agar tim tetap berkoordinasi dengan Disbudpar Provinsi Sulsel, dengan penjelasan lebih rinci terkait SOP tim pokja provinsi -siapa saja yang akan dilibatkan, apakah akan ada SK nya, job des tiap pokja), untuk bahan pelaporan ke Gubernur Sulsel.
Pak Said (Ka BP3 Sulsel) juga sangat mendukung program DMO ini. Pada kesempatan tersebut beliau menjelaskan tentang living culture Toraja yang menjadi daya tarik pariwisata Toraja, yang intinya terdiri dari 7 unsur budaya yaitu tongkonan dan alangsura, rante, liang (penguburan), hutan bambu, sawah adat, tempat penggembalaan, serta pasar hewan. Ini semua menjadi daya tarik pariwisata Toraja. Pemerintah/industri pariwisata diharapkan dapat mengemas potensi budaya ini sesuai dengan keinginan masyarakat.
Pertemuan singkat ini diakhiri dengan tim Cluster Toraja yang kemudian melanjutkan perjalanannya ke Toraja.
Pada keesokan harinya tim Cluster Toraja mengadakan pertemuan dengan pihak Disbudpar Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara di Hotel Sahid Toraja, Makale. Rapat dihadiri oleh Direktur Usaha Pariwisata-Kemenbudpar, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toraja Utara, serta perwakilan asosiasi PHRI Toraja, dan tim DMO Cluster Toraja.
Acara dibuka dengan sambutan dan penjelasan dari Bapak Aris Sitaba tentang tata kelola destinasi atau Destination Management Organisation (DMO), dimana Toraja merupakan salah satu cluster destinasi yang di tahun 2011 ini diprogramkan untuk dibentuk di Toraja. Diharapkan melalui DMO, masyarakat menyadari bahwa pariwisata dapat meningkatkan taraf hidup dan kebanggaan mereka, bukan hanya kebanggaan akan living culture mereka namun juga ada nilai-nilai ekonomi yang bisa diperoleh dari pariwisata, selain manfaat lingkungan dan sosial budaya lainnya.
Selanjutnya disampaikan paparan oleh tim ahli Cluster Toraja (Ir. Ina Herliana Koswara, MSc.) yang menjelaskan secara singkat tentang Tata Kelola Destinasi, dan dilanjutkan dengan penjelasan rencana kegiatan pembentukan DMO di Toraja. Program yang dimulai di tahun 2011 ini direncanakan akan berlanjut hingga tahun 2014 dengan beberapa tahapan kegiatan dari mulai tahap kelayakan studi dan sosialisasi konsep, tahap dukungan kemitraan terhadap DMO, tahap pembentukan dan legalisasi DMO, hingga tahap operasional dan evaluasi DMO.
Dijelaskan pula bahwa di tahun 2011 ini, program DMO Toraja baru dalam tahap kajian, dimana diperlukan beberapa pertemuan dengan stakeholder untuk mengetahui aspirasi mereka sekaligus identifikasi stakeholder yang menjadi key person dalam pengembangan kepariwisataan Toraja untuk diundang dalam diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion/FGD) nantinya. FGD dengan stakeholders direncanakan akan dilaksanakan di Rantepao, Toraja pada Bulan April atau Mei 2011.
Bapak Lexianus selaku Kadisbudpar Kab. Tana Toraja menyampaikan kesiapan dan dukungannya untuk melaksanakan program-program yang akan dilakukan terkait dengan DMO ini. Saat ini menurut beliau, masih banyak masyarakat sekitar daya tarik wisata yang belum memperoleh manfaat dari pariwisata. Nantinya, masyarakat yang sebaiknya terlibat dalam DMO adalah para pemimpin adat atau pemuka masyarakat yang akan dipakai untuk merumuskan seperti apa DMO yang akan diaplikasikan di Toraja.
Sementara itu Pak Yakin Tandirerung SH, Kadisparbud Kab. Toraja Utara menyampaikan permasalahan terkait karakteristik sosial budaya masyarakat Toraja yang memiliki living culture yang berbeda. Yang harus ditumbuhkan dari DMO Toraja adalah keinginan masyarakat sendiri untuk melestarikan living culture mereka.
Beberapa permasalahan awal juga dimunculkan dalam diskusi ini dari peserta yang hadir, yang meliputi :
Aksesibilitas, khususnya aksesibilitas eksternal, dari luar wilayah menuju Toraja yang cukup jauh dan melelahkan, sementara penerbangan Makassar-Toraja saat ini sudah tidak berjalan lagi.
Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan arti penting dan manfaat dari kegiatan pariwisata. Saat ini masyarakat umum belum sepenuhnya merasakan manfaat dari adanya pariwisata. Perlu sosialisasi dan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Toraja akan arti penting dan manfaat pariwisata yang dapat dinikmati oleh semua lapisan melalui tokoh adat/tokoh masyarakat.
Belum terjadwalnya pelaksanaan upacara masyarakat Toraja (eg. rambu tuka, rambu solo) secara lebih pasti dan terpublikasikan secara luas. Pelaksanaan upacara adat kurang terpublikasikan, karena masyarakat belum merasa harus memberitahukan jadwal upacara kepada pihak pemerintah/industri pariwisata, selain karena ketidakpastian kedatangan sanak keluarga mereka. Akibatnya pihak pemerintah dan industri pariwisata sulit untuk menawarkan pelaksanaan upacara ini kepada wisatawan/biro perjalanan.
Diskusi pertama ini diharapkan dapat memberikan penjelasan awal tentang kegiatan program DMO yang akan dilaksanakan di Toraja, yang tentunya akan ditindaklanjuti dengan pertemuan-pertemuan berikutnya yang lebih mendalam dan dihadiri oleh pemangku kepentingan lainnya di Toraja.
BACA SELENGKAPNYA..
Pertemuan dengan Kadisbudpar Provinsi Sulawesi Selatan, Bapak MS. Mallambossi diadakan di Makassar pada tanggal 2 Maret 2011 bertempat di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan. Rombongan tim Cluster Toraja dipimpin oleh Bapak Aris Sitaba, Direktur Usaha Pariwisata, Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kemenbudpar, dan ketua Tim Cluster Toraja Bapak Setiawan, yang didampingi oleh Ir. Ina Herliana Koswara MSc., Undhan Sensivari dan Stella Veronika. Hadir pada pertemuan tersebut Bapak Andy M Said -Ketua Badan Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Provinsi Sulawesi Selatan beserta stafnya.
Pertemuan diawali dengan laporan dan penjelasan singkat tentang program DMO Cluster Toraja oleh Bapak Aris Sitaba, yang sekaligus memperkenalkan anggota tim, dan kegiatan yang akan dilakukan oleh tim dalam pelaksanaan program DMO ini. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan keinginan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata akan dukungan dari Provinsi Sulsel khususnya terkait pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Provinsi yang akan mendukung program DMO ini, maupun kelengkapan data dan informasi yang dibutuhkan tim dalam melaksanakan program DMO di Cluster Toraja.
Kadisbudpar Provinsi Sulsel Bapak Suaib Mallambossi menyambut baik kedatangan tim dan sangat mendukung program ini. Diharapkan agar tim tetap berkoordinasi dengan Disbudpar Provinsi Sulsel, dengan penjelasan lebih rinci terkait SOP tim pokja provinsi -siapa saja yang akan dilibatkan, apakah akan ada SK nya, job des tiap pokja), untuk bahan pelaporan ke Gubernur Sulsel.
Pak Said (Ka BP3 Sulsel) juga sangat mendukung program DMO ini. Pada kesempatan tersebut beliau menjelaskan tentang living culture Toraja yang menjadi daya tarik pariwisata Toraja, yang intinya terdiri dari 7 unsur budaya yaitu tongkonan dan alangsura, rante, liang (penguburan), hutan bambu, sawah adat, tempat penggembalaan, serta pasar hewan. Ini semua menjadi daya tarik pariwisata Toraja. Pemerintah/industri pariwisata diharapkan dapat mengemas potensi budaya ini sesuai dengan keinginan masyarakat.
Pertemuan singkat ini diakhiri dengan tim Cluster Toraja yang kemudian melanjutkan perjalanannya ke Toraja.
Pada keesokan harinya tim Cluster Toraja mengadakan pertemuan dengan pihak Disbudpar Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara di Hotel Sahid Toraja, Makale. Rapat dihadiri oleh Direktur Usaha Pariwisata-Kemenbudpar, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toraja Utara, serta perwakilan asosiasi PHRI Toraja, dan tim DMO Cluster Toraja.
Acara dibuka dengan sambutan dan penjelasan dari Bapak Aris Sitaba tentang tata kelola destinasi atau Destination Management Organisation (DMO), dimana Toraja merupakan salah satu cluster destinasi yang di tahun 2011 ini diprogramkan untuk dibentuk di Toraja. Diharapkan melalui DMO, masyarakat menyadari bahwa pariwisata dapat meningkatkan taraf hidup dan kebanggaan mereka, bukan hanya kebanggaan akan living culture mereka namun juga ada nilai-nilai ekonomi yang bisa diperoleh dari pariwisata, selain manfaat lingkungan dan sosial budaya lainnya.
Selanjutnya disampaikan paparan oleh tim ahli Cluster Toraja (Ir. Ina Herliana Koswara, MSc.) yang menjelaskan secara singkat tentang Tata Kelola Destinasi, dan dilanjutkan dengan penjelasan rencana kegiatan pembentukan DMO di Toraja. Program yang dimulai di tahun 2011 ini direncanakan akan berlanjut hingga tahun 2014 dengan beberapa tahapan kegiatan dari mulai tahap kelayakan studi dan sosialisasi konsep, tahap dukungan kemitraan terhadap DMO, tahap pembentukan dan legalisasi DMO, hingga tahap operasional dan evaluasi DMO.
Dijelaskan pula bahwa di tahun 2011 ini, program DMO Toraja baru dalam tahap kajian, dimana diperlukan beberapa pertemuan dengan stakeholder untuk mengetahui aspirasi mereka sekaligus identifikasi stakeholder yang menjadi key person dalam pengembangan kepariwisataan Toraja untuk diundang dalam diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion/FGD) nantinya. FGD dengan stakeholders direncanakan akan dilaksanakan di Rantepao, Toraja pada Bulan April atau Mei 2011.
Bapak Lexianus selaku Kadisbudpar Kab. Tana Toraja menyampaikan kesiapan dan dukungannya untuk melaksanakan program-program yang akan dilakukan terkait dengan DMO ini. Saat ini menurut beliau, masih banyak masyarakat sekitar daya tarik wisata yang belum memperoleh manfaat dari pariwisata. Nantinya, masyarakat yang sebaiknya terlibat dalam DMO adalah para pemimpin adat atau pemuka masyarakat yang akan dipakai untuk merumuskan seperti apa DMO yang akan diaplikasikan di Toraja.
Sementara itu Pak Yakin Tandirerung SH, Kadisparbud Kab. Toraja Utara menyampaikan permasalahan terkait karakteristik sosial budaya masyarakat Toraja yang memiliki living culture yang berbeda. Yang harus ditumbuhkan dari DMO Toraja adalah keinginan masyarakat sendiri untuk melestarikan living culture mereka.
Beberapa permasalahan awal juga dimunculkan dalam diskusi ini dari peserta yang hadir, yang meliputi :
Aksesibilitas, khususnya aksesibilitas eksternal, dari luar wilayah menuju Toraja yang cukup jauh dan melelahkan, sementara penerbangan Makassar-Toraja saat ini sudah tidak berjalan lagi.
Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan arti penting dan manfaat dari kegiatan pariwisata. Saat ini masyarakat umum belum sepenuhnya merasakan manfaat dari adanya pariwisata. Perlu sosialisasi dan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Toraja akan arti penting dan manfaat pariwisata yang dapat dinikmati oleh semua lapisan melalui tokoh adat/tokoh masyarakat.
Belum terjadwalnya pelaksanaan upacara masyarakat Toraja (eg. rambu tuka, rambu solo) secara lebih pasti dan terpublikasikan secara luas. Pelaksanaan upacara adat kurang terpublikasikan, karena masyarakat belum merasa harus memberitahukan jadwal upacara kepada pihak pemerintah/industri pariwisata, selain karena ketidakpastian kedatangan sanak keluarga mereka. Akibatnya pihak pemerintah dan industri pariwisata sulit untuk menawarkan pelaksanaan upacara ini kepada wisatawan/biro perjalanan.
Diskusi pertama ini diharapkan dapat memberikan penjelasan awal tentang kegiatan program DMO yang akan dilaksanakan di Toraja, yang tentunya akan ditindaklanjuti dengan pertemuan-pertemuan berikutnya yang lebih mendalam dan dihadiri oleh pemangku kepentingan lainnya di Toraja.
Rabu, 08 Juni 2011
Rp 500 Milliar dari Dana APBN-APBD disiapkan untuk Rampungkan Bandara Tana Toraja
Guna merampungkan revitalisasi Bandara di Buntu Kuni, Kec. Mengkendek Kab. Tana Toraja, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah mengusulkan anggaran Rp 500 miliar yang diambil dari dana APBD dan APBN.
Andi Masykur Sultan, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Propinsi Sulawesi Selatan, pada saat melakukan kunjungan kerjanya ke Singapura–Malaysia bersama Gubernur Sulawesi Selatan dan beberapa Muspida Sulawesi Selatan, Jumat (3/6/2011) mengatakan, saat ini proses tender telah berjalan dan segera melanjutkan proyek pengerjaan pengembangan kawasan.
Pemerintah Provinsi juga mengharapkan di tahun 2014 mendatang, bandara yang akan dijadikan pintu masuk wisatawan itu bisa rampung. Luas lahan Bandara di Tana Toraja yang merupakan pindahan dari Bandara Pongtiku di Rantetayo mencapai 225 hektare dengan panjang runway 1.900 meter.
Ini merupakan lahan baru karena Bandara Pongtiku dianggap sudah tidak layak karena tidak bisa dikembangkan dengan terbatasnya lahan. Lokasi Bandara baru ini akan dipindahkan ke Bonto Kunek, Kecamatan Makendek, Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Anggaran untuk pembangunan Bandara ini, dikucurkan bertahap untuk lima tahun ke depan. Bandara ini akan menjadi bandara kedua terbesar di Sulawesi Selatan karena diperuntukan bisa melayani pesawat jenis Boing 737-100 seater untuk penerbangan regional.
Bandara ini memiliki dua runway sehingga berbeda dengan bandara perintis yang ada di Sulawesi Selatan yang hanya memiliki satu runway dengan panjang antara 900–1.200 meter.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa Bandara Tana Toraja merupakan salah satu prioritas Pemerintah Sulawesi Selatan untuk tiga tahun ke depan dan akan dijadikan destinasi tujuan wisata.
Untuk mencapai Tana Toraja dibutuhkan waktu Sembilan jam. Oleh karena itu, dengan kehadiran bandara tersebut diharapkan bisa terhubung dengan bandara nasional lain sehingga mempermudah kunjungan wisata, tambahnya.
Dengan hadirnya Bandara Tana Toraja ini akan menambah jumlah bandara perintis yang ada di Sulawesi Selatan. Dintaranya yang sudah ada, yakni Bandara Bone, Bandara Sekorampi Luwu, Bandara Masamba Luwu Utara, Bandara Selayar, dan Bandara swasta milik PT Inco di Sorowako Luwu Timur.
BACA SELENGKAPNYA..
Andi Masykur Sultan, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Propinsi Sulawesi Selatan, pada saat melakukan kunjungan kerjanya ke Singapura–Malaysia bersama Gubernur Sulawesi Selatan dan beberapa Muspida Sulawesi Selatan, Jumat (3/6/2011) mengatakan, saat ini proses tender telah berjalan dan segera melanjutkan proyek pengerjaan pengembangan kawasan.
Pemerintah Provinsi juga mengharapkan di tahun 2014 mendatang, bandara yang akan dijadikan pintu masuk wisatawan itu bisa rampung. Luas lahan Bandara di Tana Toraja yang merupakan pindahan dari Bandara Pongtiku di Rantetayo mencapai 225 hektare dengan panjang runway 1.900 meter.
Ini merupakan lahan baru karena Bandara Pongtiku dianggap sudah tidak layak karena tidak bisa dikembangkan dengan terbatasnya lahan. Lokasi Bandara baru ini akan dipindahkan ke Bonto Kunek, Kecamatan Makendek, Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Anggaran untuk pembangunan Bandara ini, dikucurkan bertahap untuk lima tahun ke depan. Bandara ini akan menjadi bandara kedua terbesar di Sulawesi Selatan karena diperuntukan bisa melayani pesawat jenis Boing 737-100 seater untuk penerbangan regional.
Bandara ini memiliki dua runway sehingga berbeda dengan bandara perintis yang ada di Sulawesi Selatan yang hanya memiliki satu runway dengan panjang antara 900–1.200 meter.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa Bandara Tana Toraja merupakan salah satu prioritas Pemerintah Sulawesi Selatan untuk tiga tahun ke depan dan akan dijadikan destinasi tujuan wisata.
Untuk mencapai Tana Toraja dibutuhkan waktu Sembilan jam. Oleh karena itu, dengan kehadiran bandara tersebut diharapkan bisa terhubung dengan bandara nasional lain sehingga mempermudah kunjungan wisata, tambahnya.
Dengan hadirnya Bandara Tana Toraja ini akan menambah jumlah bandara perintis yang ada di Sulawesi Selatan. Dintaranya yang sudah ada, yakni Bandara Bone, Bandara Sekorampi Luwu, Bandara Masamba Luwu Utara, Bandara Selayar, dan Bandara swasta milik PT Inco di Sorowako Luwu Timur.
Minggu, 05 Juni 2011
Tiga Warga tenggelam dalam sehari
Sungai Sa’dan “makan” korban lagi. Setelah sebelumnya mengambil beberapa nyawa warga, kemarin, sungai yang berhulu di Sa’dan, kabupaten Toraja Utara ini, kembali “menelan” korban jiwa, tepat di daerah Lampan, kelurahan Tallunglipu, kecamatan Tallunglipu, Toraja Utara, Jumat kemarin.
Dua buruh bangunan yang berniat mengambil pasir, hilang ditelan arus sungai. Sementara dari Sangalla, kabupaten Tana Toraja dilaporkan seorang siswa SMP juga tewas tenggelam di kolam permandian alam Assa’ di lembang Turunan kecamatan Sangalla.
Informasi yang dihimpun Palopo Pos di lokasi kejadian, dua korban yang dinyatakan hilang itu, masing-masing Irak (23) dan Kabubu (24), warga lembang Misa’ Babana, kecamatan Buntao. Kedua korban bersama tiga orang lainnya berniat mengambil pasir di sungai, menggunakan mesin pengisap pasir. Namun untuk kepentingan pengambilan pasir itu mereka membutuhkan bambu untuk dibuat rakit sebagai tempat mesin dan pasir hasil penggalian. Kelima orang ini pun menyeberang sungai untuk mengambil bambu. Sayangnya, keduanya tidak bisa berenang sehingga tertarik arus air.
“Saya sudah bilang ke mereka bahwa kalau tidak bisa berenang mereka bisa melalui tempat yang lebih dangkal. Tetapi mereka tetap saja mau berenang,” tutur Bolong, saksi mata, sekaligus rekan korban.
Diceritakan Bolong, dirinya bersama dua teman lainnya sudah berhasil menyeberang ke sisi lain sungai. Dirinya pun sempat mendengar kedua rekannya meminta tolong. Namun Bolong mengira kedua temannya itu bercanda. “Tapi pas saya menoleh, ternyata mereka mau tenggelam betul. Saya sempat lompat kembali ke sungai untuk menolong, saya sudah sempat pegang rambut salah satunya, tetapi tarikan arus air terlalu keras sehingga saya tidak bisa menariknya,” tutur Bolong dengan nada sedih.
Usai kedua korban tidak nampak di permukaan air, Bolong dan dua rekan lainnya masih sempat menyelam untuk mencari kedua korban. Namun pencarian mereka sia-sia, kedua korban tidak muncul-muncul dan terus terbenam di dasar sungai. Warga yang mengetahui ada korban tenggelam, juga turut membantu melakukan pencarian. Tidak lama kemudian tim rescue Tagana dari Badan Penanggulangan Bencana Alam Daerah (BPBD) Toraja Utara dan aparat kepolisian dari Polsek Metro Rantepao, juga tiba di lokasi untuk melakukan pencarian dan evakuasi.
Meski demikian, hingga pukul 18.00 Wita, petang kemarin, kedua korban belum ditemukan. Proses pencarian dihentikan karena situasi sudah gelap dan air yang keruh. Proses pencarian juga terkendala dengan terbatasnya peralatan pertolongan yang dimiliki. Tim penyelamat hanya memiliki satu perahu karet dan beberapa pelampung. Tidak ada tabung oksigen untuk kepentingan penyelaman. Warga yang ikut membantu mencari, juga hanya mengenakan perlatan seadanya. Menurut rencana, besok pagi, polisi dan tim Tagana dari BPBD Toraja Utara akan melanjutkan pencarian.
“Karena hari sudah gelap, kita hentikan dulu pencarian, besok pagi baru kita lanjutkan,” ujar seorang petugas Tagana kepada Palopo Pos.
Sementara itu, dari Sangalla, dilaporkan seorang siswa kelas III SMPN 1 Makale, tenggelam di kolam permandian alam Assa’ di lembang Turunan, kecamatan Sangalla, kabupaten Tana Toraja. Korban diketahui bernama Dan Palebangan (16), warga Pala-Pala, kecamatan Makale Utara kabupaten Tana Toraja.
Menurut informasi yang dihimpun Palopo Pos, korban bersama lima rekannya sedang berekreasi menjelang pengumuman hasil ujian nasional (UN) yang akan dilaksanakan Sabtu (4/6), hari ini. Tidak hanya mandi, korban korban bersama lima rekannya juga membuat rakit dari bambu. Rakit ini kemudian digunakan untuk menyeberangi kolam sampai di sisi lainnya. Dari situ, mereka kemudian meninggalkan rakit dan balik ke sisi awal dengan berenang. Naas, waktu berenang itu, korban diduga mengalami kelelahan atau kram otot sehingga tidak bisa mencapai sisi kolam. Korban pun tenggelam.
“Kemungkinan besar saat dia berenang dia mengalami kelalahan atau kram otot sehingga tenggelam,” ujar Farma, salah satu anggota keluarga korban, ketika ditemui di RSU Lakipadada, kemarin.
Meski ukuran kolamnya tidak terlalu besar, namun mayat korban baru ditemukan sekitar sekitar pukul 15.00 Wita di tempat yang tidak jauh tempat korban tenggelam sebelumnya. Mayat korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah orangtuanya di Pala-Pala, Makale Utara.
Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasatreskrim) Polres Tana Toraja, AKP Supryanto, yang dimintai komentarnya di Rumah Sakit Lakipadada, kemarin, menyatakan kematian korban murni kecelakaan dan tidak ada unsur kesengajaan atau tindak kejahatan.
“Ini murni kecelakaan. Korban tewas karena tenggelam Tidak ada tanda-tanda penganiayaan yang ditemukan di tubuh korban,” ujarnya
Sumber : Palopo Pos
BACA SELENGKAPNYA..
Informasi yang dihimpun Palopo Pos di lokasi kejadian, dua korban yang dinyatakan hilang itu, masing-masing Irak (23) dan Kabubu (24), warga lembang Misa’ Babana, kecamatan Buntao. Kedua korban bersama tiga orang lainnya berniat mengambil pasir di sungai, menggunakan mesin pengisap pasir. Namun untuk kepentingan pengambilan pasir itu mereka membutuhkan bambu untuk dibuat rakit sebagai tempat mesin dan pasir hasil penggalian. Kelima orang ini pun menyeberang sungai untuk mengambil bambu. Sayangnya, keduanya tidak bisa berenang sehingga tertarik arus air.
“Saya sudah bilang ke mereka bahwa kalau tidak bisa berenang mereka bisa melalui tempat yang lebih dangkal. Tetapi mereka tetap saja mau berenang,” tutur Bolong, saksi mata, sekaligus rekan korban.
Diceritakan Bolong, dirinya bersama dua teman lainnya sudah berhasil menyeberang ke sisi lain sungai. Dirinya pun sempat mendengar kedua rekannya meminta tolong. Namun Bolong mengira kedua temannya itu bercanda. “Tapi pas saya menoleh, ternyata mereka mau tenggelam betul. Saya sempat lompat kembali ke sungai untuk menolong, saya sudah sempat pegang rambut salah satunya, tetapi tarikan arus air terlalu keras sehingga saya tidak bisa menariknya,” tutur Bolong dengan nada sedih.
Usai kedua korban tidak nampak di permukaan air, Bolong dan dua rekan lainnya masih sempat menyelam untuk mencari kedua korban. Namun pencarian mereka sia-sia, kedua korban tidak muncul-muncul dan terus terbenam di dasar sungai. Warga yang mengetahui ada korban tenggelam, juga turut membantu melakukan pencarian. Tidak lama kemudian tim rescue Tagana dari Badan Penanggulangan Bencana Alam Daerah (BPBD) Toraja Utara dan aparat kepolisian dari Polsek Metro Rantepao, juga tiba di lokasi untuk melakukan pencarian dan evakuasi.
Meski demikian, hingga pukul 18.00 Wita, petang kemarin, kedua korban belum ditemukan. Proses pencarian dihentikan karena situasi sudah gelap dan air yang keruh. Proses pencarian juga terkendala dengan terbatasnya peralatan pertolongan yang dimiliki. Tim penyelamat hanya memiliki satu perahu karet dan beberapa pelampung. Tidak ada tabung oksigen untuk kepentingan penyelaman. Warga yang ikut membantu mencari, juga hanya mengenakan perlatan seadanya. Menurut rencana, besok pagi, polisi dan tim Tagana dari BPBD Toraja Utara akan melanjutkan pencarian.
“Karena hari sudah gelap, kita hentikan dulu pencarian, besok pagi baru kita lanjutkan,” ujar seorang petugas Tagana kepada Palopo Pos.
Sementara itu, dari Sangalla, dilaporkan seorang siswa kelas III SMPN 1 Makale, tenggelam di kolam permandian alam Assa’ di lembang Turunan, kecamatan Sangalla, kabupaten Tana Toraja. Korban diketahui bernama Dan Palebangan (16), warga Pala-Pala, kecamatan Makale Utara kabupaten Tana Toraja.
Menurut informasi yang dihimpun Palopo Pos, korban bersama lima rekannya sedang berekreasi menjelang pengumuman hasil ujian nasional (UN) yang akan dilaksanakan Sabtu (4/6), hari ini. Tidak hanya mandi, korban korban bersama lima rekannya juga membuat rakit dari bambu. Rakit ini kemudian digunakan untuk menyeberangi kolam sampai di sisi lainnya. Dari situ, mereka kemudian meninggalkan rakit dan balik ke sisi awal dengan berenang. Naas, waktu berenang itu, korban diduga mengalami kelelahan atau kram otot sehingga tidak bisa mencapai sisi kolam. Korban pun tenggelam.
“Kemungkinan besar saat dia berenang dia mengalami kelalahan atau kram otot sehingga tenggelam,” ujar Farma, salah satu anggota keluarga korban, ketika ditemui di RSU Lakipadada, kemarin.
Meski ukuran kolamnya tidak terlalu besar, namun mayat korban baru ditemukan sekitar sekitar pukul 15.00 Wita di tempat yang tidak jauh tempat korban tenggelam sebelumnya. Mayat korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah orangtuanya di Pala-Pala, Makale Utara.
Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasatreskrim) Polres Tana Toraja, AKP Supryanto, yang dimintai komentarnya di Rumah Sakit Lakipadada, kemarin, menyatakan kematian korban murni kecelakaan dan tidak ada unsur kesengajaan atau tindak kejahatan.
“Ini murni kecelakaan. Korban tewas karena tenggelam Tidak ada tanda-tanda penganiayaan yang ditemukan di tubuh korban,” ujarnya
Sumber : Palopo Pos
Disperindag dan Dishub Torut mendapat sorotan Dewan
Keberadaan sitor (becak motor,red) yang kerap membuat kemacetan para pengguna jalan, sangat disayangkan anggota Komisi III dari Fraksi Demokrat DPRD Toraja Utara, Ir Harun Lembang. Menurutnya, penyebab kemacetan dikarenakan makin meningkatnya produksi sitor yang dilakukan usaha bengkel, namun tidak mendapatkan perhatian pemerintah, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Toraja Utara.
"Kami menyampaikan hal tersebut pada kepala dinas perindag, dalam rapat DPRD untuk tidak ada lagi penambahan produksi sitor, pasalnya sangat mengganggu ketertiban lalu lintas dan memacetkan jalan" ujarnya, belum lama ini.
Dia mengatakan, kemacetan juga terjadi disebabkan belum maksimalnya Dinas Perhubungan dalam melakukan fungsinya. Seharusnya Dishub membuat jalur khusus sitor dan tidak memarkir dengan semberang tempat saat mengambil penumpang sehingga tidak terjadi kemacetan,"ucapnya.
Di tempat terpisah, Pelaksana Tugas Dinas Perhubungan Toraja Utara yang juga Asisten I Pemkab Torut Drs Calvin Tandiarrang, mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan kepada kepala bidang untuk melakukan pembinaan secara persuasif kepada pengendara atau pemilik sitor. Dalam waktu dekat akan melakukan pemasangan 15 titik rambu rambu lalu lintas pada lokasi rawan kemacetan, sehingga nantinya para pengendara sitor tidak lagi memasuki jalur tanda larangan tersebut.
Pihaknya juga siap menindak tegas, pengendara sitor yang melanggar sesuai peraturan yang ada bagi setiap kendaraan angkutan penumpang dalam Kota Rantepao. "Kendaraan angkutan kota diharapkan menggunakan terminal yang sudah disediakan pemerintah serta tidak lagi melakukan perparkiran diluar terminal dalam mencari penumpang,"tegasnya.
BACA SELENGKAPNYA..
Dia mengatakan, kemacetan juga terjadi disebabkan belum maksimalnya Dinas Perhubungan dalam melakukan fungsinya. Seharusnya Dishub membuat jalur khusus sitor dan tidak memarkir dengan semberang tempat saat mengambil penumpang sehingga tidak terjadi kemacetan,"ucapnya.
Di tempat terpisah, Pelaksana Tugas Dinas Perhubungan Toraja Utara yang juga Asisten I Pemkab Torut Drs Calvin Tandiarrang, mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan kepada kepala bidang untuk melakukan pembinaan secara persuasif kepada pengendara atau pemilik sitor. Dalam waktu dekat akan melakukan pemasangan 15 titik rambu rambu lalu lintas pada lokasi rawan kemacetan, sehingga nantinya para pengendara sitor tidak lagi memasuki jalur tanda larangan tersebut.
Pihaknya juga siap menindak tegas, pengendara sitor yang melanggar sesuai peraturan yang ada bagi setiap kendaraan angkutan penumpang dalam Kota Rantepao. "Kendaraan angkutan kota diharapkan menggunakan terminal yang sudah disediakan pemerintah serta tidak lagi melakukan perparkiran diluar terminal dalam mencari penumpang,"tegasnya.
Sabtu, 04 Juni 2011
Sampai dengan Mei 2011 baru dua kecamatan Yang RASKINnya Lunas
Setiap bulannya, Beras Miskin (RASKIN) disalurkan kepada 20.961 Kepala Keluarga dengan jumlah 314.415 Kg. Penyaluran Raskin untuk tahun 2011 lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. "Hal ini dilakukan agar tidak terulang kejadian banyak utang raskin, yang sampai membutuhkan proses Pengadilan akibat ulah oknum tidak bertanggung jawab, terang Sekkab Tana Toraja, Enos Karoma Selasa (31/5) di ruang kerjanya. Untuk Kecamatan Mappak dan Simbuang, karena letaknya yang jauh, sering mengalami kendala pengangkutan. Untuk mengantisipasinya, tahun anggaran 2012 pemkab sudah menganggarkan perbaikan jalan. "Untuk pemerataan pembangunan antar wilayah," janji Enos Karoma.
Kabag Ekonomi Sekretariat Daerah (Setda) Tana Toraja Margareta Tulak, menjelaskan bahwa hingga Mei 2011 baru dua kecamatan sudah lunas raskinnya, bahkan DO beras untuk bulan Juni 2011 sudah diorder, yatu Makale Utara dan Rembon. Menyusul kemudian Kecamatan Malimbong Balepe, Sangalla, Sangalla Utara, dan Makale Selatan. Dua kecamatan lagi masih menunggak. "Pihak Bulog Palopo menegaskan tidak akan mendrop raskin bagi kecamatan yang bermasalah. Harga dasar raskin Rp1.600 per kilogram atau Rp.24.000 per zak isinya 15 kilogram," pungkas Margareta
BACA SELENGKAPNYA..
Kabag Ekonomi Sekretariat Daerah (Setda) Tana Toraja Margareta Tulak, menjelaskan bahwa hingga Mei 2011 baru dua kecamatan sudah lunas raskinnya, bahkan DO beras untuk bulan Juni 2011 sudah diorder, yatu Makale Utara dan Rembon. Menyusul kemudian Kecamatan Malimbong Balepe, Sangalla, Sangalla Utara, dan Makale Selatan. Dua kecamatan lagi masih menunggak. "Pihak Bulog Palopo menegaskan tidak akan mendrop raskin bagi kecamatan yang bermasalah. Harga dasar raskin Rp1.600 per kilogram atau Rp.24.000 per zak isinya 15 kilogram," pungkas Margareta
Jumat, 03 Juni 2011
PLTA Malea beroperasi Agustus 2011, Hadji Kalla
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Malea yang terletak di Kecamatan Makale Selatan ditengarai terjadi keterlambatan pembangunannya. Hal itu terlihat bila melihat realisasi fisik dilapangan baru mencapai 70 persen. Pembangunan yang dikerjakan oleh PT.Bukaka Group bila merujuk sesuai kontrak baru akan berakhir Juni 2011.
Ditemui dilokasi Jumat (3/6/11) Bupati Tana Toraja (Tator) Theofilus Allorerung kepada kabar-toraja.com mengatakan, keterlambatan pembangunan akan merugikan masyarakat. Bila itu terjadi Pemda tak akan memperpanjang kontrak bila tidak selesai hingga akhir Agustus.
Desakan itu turut mendapat respon oleh Jusuf Kalla (JK) yang turut meninjau lokasi. Mantan Wakil Presiden ini merespon dengan mengatakan, PLTA Malea sudah berfungsi pada akhir Agustus.
Turut hadir dilokasi Ketua DPRD Tator Welem Sambolangi, Plt Sekkab Enos Karoma serta sejumlah SKPD lainnya. BACA SELENGKAPNYA..


