Masih Proses, Sa'bara' komi...
Sponsored By : Kecamatan Makale.

Jumat, 17 Juni 2011

Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur SULTENG berlangsung Tegang.

"Right man on the right place", itulah pesan Menteri Dalam Negeri RI, Gamawan Fauzi kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah terpilih, Longki Djanggola-Sudarto, dalam rapat paripurna luar biasa, acara pelantikan pasangan tersebut di Palu. Mendagri mengingatkan untuk menempatkan orang-orang profesional dalam jajaran kabinetnya kelak. sebab kata dia, Sulteng adalah provinsi yang dinilai kaya sumber daya alam, namun miskin pengelolaan. Persoalannya karena sumber daya manusia yang harusnya melakukan pengelolaan tidak maksimal.

"Jangan sampai karena politik, kita menempatkan kepala Dinas PU, orangnya lulusan doktorandus dari IAIN," ujar Gamawan di DPRD Sulteng, Jumat, 17 Juni.

Ikut dalam rombongan Mendagri, Menteri Sosial Saggaf Al Djufri, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo, dua anggota DPR RI dari Fraksi Partai Hanura Akbar Faisal dan Syarifuddin Sudding, serta Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh.

Gamawan Fauzi mengatakan, dia sempat diberitahu bahwa pelantikan akan dilaksanakan di lapangan terbuka. Alasannya, untuk menampung keinginan orang banyak ikut menyaksikan pelantikan tersebut. Wajar saja, lanjut dia, sebab untuk pertama kali dalam sejarah pemilihan Gubernur Sulteng, pasangan tersebut mendapat suara mencapai 54 persen. Catatan Lembaga Survei Indonesia, hanya ada dua provinsi di Indonesia pada pemilihan secara langsung yang pemenang mencapai di atas 50 persen. Yakni Gorontalo dan Sulteng.

"Secara ekonomi, Sulteng mengalami pertumbuhan yang baik bahkan melampaui pertumbuhan Indonesia. Capaian Sulteng hingga tujuh persen pada tahun 2010. Namun, catatan lain indeks pembangunan manusia masih di bawah rata-rata nasional. Ini menunjukkan masih banyak masalah pendidikan, kesehatan dan beberapa aspek sebagai indikator pertumbuhan manusia di Sulteng." kata Gamawan.

Meskipun demikian, Gamawan yakin pasangan Longki-Sudarto dapat menyelesaikan pekerjaan rumah tersebut dengan baik. Sebab, berdasarkan pengalaman, kedua pemimpin tersebut terhitung sebagai orang yang berpengalaman dalam memimpin daerah. Sebelumnya, Longki adalah Bupati Parigi Moutong selama dua periode. Sedangkan Sudarto adalah mantan Bupati Kabupaten Banggai selama dua periode. Terakhir, sebelum menjadi Wagub, Sudarto adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah RI asal Sulteng.

Sementara itu, selama proses pelantikan, pengamanan berlangsung dengan sangat ketat. Ratusan tentara terlihat melapisi seluruh jalan-jalan protokol di kota Palu sejak Kamis malam hingga acara pelantikan usai, Jumat kemarin.

Para TNI yang siaga dengan senjata di tangan itu membuat suasana Kota Palu, terlihat tegang. Aparat keamanan berjaga di setiap sudut kota dan bertambah ketat di seputar kantor DPRD Sulteng. Seluruh aparat bersenjata lengkap.
BACA SELENGKAPNYA..

Kamis, 16 Juni 2011

Tana Toraja Unggulkan Aspek Sosial Budaya dan Keberlanjutan Lingkungan

Penetapan Kawasan Strategis di Kabupaten Tana Toraja didasarkan pada potensi dasar yang dimiliki oleh kawasan tersebut. Keunggulan yang dimiliki oleh Kota Makale dan Makula dalam aspek lingkungan hidup dan sosial budaya menjadi dasar bagi penetapan sebagai Kawasan Strategis Kabupaten pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tana Toraja. Demikian disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Wakatobi Yunus Sirante dalam Pembahasan Progres IV Kegiatan Peningkatan Penataan Wilayah Kabupaten Tana Toraja di Jakarta (1/6).

Makale merupakan ibukota sekaligus salah satu kawasan perkotaan di Kabupaten Tana Toraja. Direncanakan dengan konsep ecocity (kota berbasiskan ekologi) yang berwujud kota taman atraktif dan efektif sebagai sentra informasi, komunikasi, transportasi serta akomodasi pendukung Kawasan Strategis Nasional (KSN) pariwisata Toraja dan sekitarnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, akan dilaksanakan relokasi pasar tradisional, dan bekas pasar tradisional tersebut nantinya dikembangkan sebagai Tourism Center.

Diharapkan Tourism Center ini mampu memerankan Makale sebagai pusat KSN pariwisata dan mewujudkan konsep ecocity. Untuk mengusulkan kawasan strategis di Kabupaten Tana Toraja, perlu didukung oleh bandar udara baru di Buntu Kunyi (Kecamatan Mangkendek). Pengembangan bandar udara akan menjadi faktor pendorong bagi wisatawan untuk dapat mengunjungi Kabupaten Tana Toraja, papar Yunus.

Ditambahkan oleh Yunus, pengembangan Makula difokuskan pada aspek sosial budaya dikarenakan potensi yang dimiliki oleh Makula. Antara lain meliputi kepercayaan Aluk Todolo yang menjaga keharmonisan elemen utama sistem tongkonan dalam menjaga kualitas dan kelestarian kawasan desa; tongkonan kekerabatan Kaero, makam adat di Suaya serta Rante yang mer

upakan obyek wisata unik yang menarik; serta sumber air belerang yang potensial dikembangkan sebagai wisata mandi air panas yang higienis.

Direktur Penataan Ruang Wilayah III Wahyono Bintarto mengungkapkan, diharapkan draft Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang RTRW Kabupaten Tana Toraja dapat segera terselesaikan. Hal ini untuk memenuhi amanat Inpres Nomor 1/2010 tentang Prioritas Percepatan Pembangunan Nasional Tahun 2010. Direktorat Penataan Ruang Wilayah III telah menetapkan target penyelesaian Raperda RTRW Kabupaten Tana Toraja pada akhir Desember 2010. “Sehingga besar harapan agar Raperda dapat segera diselesaikan,” tegas Bintarto


Sumber : www.penataanruang.net
BACA SELENGKAPNYA..

Mahasiswa Tana Toraja diserang massa tak dikenal.

Sejumlah mahasiswa perguruan tinggi Makassar yang tergabung dalam forum mahasiswa Toraja (format) diserang oleh sekelompok pemuda bersenjata tajam, Selasa (14/6/2011) dini hari. Akibatnya kejadian itu salah satu mahasiswa mengalami luka robek pada bagian pipinya akibat sabetan senjata tajam.

Kejadian berawal ketika para mahasiswa Format melintas di Kelurahan Sudiang, usai mengantar jenazah salah satu rekannya dari Bandara Hasanuddin, yang tewas tenggelam di Tanjung Bayam. Ketika itu sejumlah pemuda bersenjata tajam kemudian menghadang mereka dan langsung menyerang dengan menghunuskan samurai kepada salah satu mahasiswa Format.

Para penyerang akhirnya membubarkan diri setelah sejumlah pihak kepolisian mendatangi lokasi dan membubarkan mereka. "Kami tidak mengetahui alasan penyerangan tersebut. kami juga tidak mengenal para penyerang," ujar Irfan (25) salah satu mahasiswa Format ketika berada di Mapolsek Biringkanaya.

Pihak Kepolisan Biringkanaya kemudian mengantar para mahasiswa Format menuju ke asrama mereka untuk menghindari serangan susulan dari para penyerang.

Menurut Kapolsek Biringkanaya Kompol Mursalim, pihaknya masih menyelidiki penyerangan tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa dua saksi telah diperiksa untuk pengembangan kasus penyerangan tersebut.

Sumber : Tribun Makassar
BACA SELENGKAPNYA..

Victor, hampir pasti pimpin PD Tana Toraja

Salah Satu Calon Ketua DPC Partai Demokrat Tana Toraja, Victor Datuan Batara, yang adalah mantan Kapolres Tana Toraja dan Calon Bupati Tana Toraja pada PILKADA lalu, hampir pasti akan terpilih secara aklamasi pada Musyawarah Cabang (Muscab) Demokrat yang akan digelar pada Jum’at, (17/6)

Hasil uji kelayakan dan kepatutan (Fit and Proper Test) yang digelar di sekretariat DPD Demokrat Prop. Sulawesi Selatan menyatakan Victor, yang juga Koordinator Kabupaten (Korkab) Toraja DPD Demokrat Sulsel tersebut sebagai calon tunggal.

“Pak Victor memang calon tunggal dan hampir pasti terpilih aklamasi,” kata anggota tim fit and proper test DPD Demokrat Sulsel, Amir Mahmud. Dari hasil uji kelayakan itu, lanjut Amir, Victor menyatakan sejumlah komitmen, di antaranya membesarkan Partai Demokrat di Toraja dengan target perolehan suara sebesar 30%, dan pembenahan organisasi serta infrastruktur partai.

“Selain komitmen tersebut, Pak Victor juga harus memenangkan calon yang diusung Demokrat di Toraja pada pilgub nanti,” jelas Amir. Ketua Fraksi Demokrat DPRD Tana Toraja Alexander P Ranteallo mengatakan,Victor Datuan Batara punya pengalaman memimpin organisasi, di antaranya pernah menjabat kepala kepolisian resor (Kapolres) Tana Toraja 2007-2010.Victor juga masuk dalam jajaran pengurus DPD I Demokrat Sulsel. Dihubungi terpisah,Victor Datuan Batara menyatakan siap memimpin DPC Demokrat TanaToraja.

“Saya sudah ikut uji kelayakan di DPD I Demokrat,” ungkap Victor kemarin. Sementara itu, jumlah kandidat yang dipastikan bersaing pada pemilihan ketua DPC Demokrat Toraja Utara (Torut) sebanyak tiga orang. Mereka adalah Daniel Renden, Piter Sule, dan Ice Dany.Ketiga kandidat itu hadir mengkutifit and proper test yang dipimpin langsung oleh Andry S Arief Bulu sebagai ketua tim.
BACA SELENGKAPNYA..

Minggu, 12 Juni 2011

Pesan Nurdin Khalid untuk Kongres PSSI


Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia Pusat, Nurdin Halid mengharapkan kongres luar biasa Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) di kota Solo pada 9 Juli mendatang berhasil demi masa depan sepakbola Indonesia.

"Kita harap kongres luar biasa PSSI yang diagendakan 9 Juli mendatang di Solo tidak lagi ada istilah deadlock," kata Nurdin Halid di Mamuju, Sabtu (11/6).

Menurut dia, kongres PSSI yang dipimpin langsung ketua normalisasi Agum Gumelar yang akhirnya gagal, karena kelompok 78 terus mengusung calon ketua umum George Toisuta dan Arifin Panigoro.

"Saya tidak mau mencampuri masalah keinginan kelompok 78. Namun, saya sangat menghendaki agar kongres PSSI ini berjalan lancar, aman dan menghasilkan keputusan yang baik untuk masa depan generasi para atlet-atlet sepakbola di negeri ini," harap Nurdin.

Nurdin mengatakan, dirinya masih tetap ketua PSSI yang resmi hingga terbentuknya pengurus yang baru hasil kongres mendatang.

"Memang saya tidak lagi dianggap sebagai pengurus resmi. Namun begitu, hasil kongres ini tetap resmi karena saya ikhlas menerimanya untuk masa depan persepakbolaan di Indonesia," tutur Nurdin.

Karena itu, mundurnya kongres luar biasa PSSI tersebut karena alasan atas pertimbangan setelah adanya masukan dari Asian Football Confederation (AFC) di Kuala Lumpur dan hasilnya telah dilaporkan ke FIFA.

Nurdin mengatakan, dirinya yang banyak dikecam oleh berbagai elemen masyarakat untuk mundur dari ketua umum PSSI tetap ikhlas menerima karena Tuhan akan menunjukkan kebenaran.

"Tidak apa-apa saya diperlakukan seperti itu dan bahkan dituduh berbuat korupsi anggaran PSSI karena semua kebenaran akan diperlihatkan oleh Tuhan," ucapnya.

Ia berharap, siapa pun pengurus PSSI mendatang agar memiliki visi dan misi yang jelas akan nasib dan perkembangan sepakbola di tanah air.

"Sepakbola salah satu cabang olahraga yang sangat diminati oleh masyarakat di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Nah, jika kongres PSSI gagal maka bisa jadi rakyat Indonesia marah karena nasib persepakbolaan akan semakin terpuruk," katanya.


BACA SELENGKAPNYA..

Jumat, 10 Juni 2011

Toraja merupakan salah satu cluster destinasi yang di tahun 2011 ini diprogramkan untuk dibentuk di Toraja


Dalam rangka pelaksanaan program DMO (Destination Management Organisation), tim Cluster Toraja telah mengadakan pertemuan awal dengan stakeholder kepariwisataan Toraja yaitu Kadisbudpar Provinsi Sulawesi Selatan, Kadisbudpar Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara beserta stafnya yang terkait.

Pertemuan dengan Kadisbudpar Provinsi Sulawesi Selatan, Bapak MS. Mallambossi diadakan di Makassar pada tanggal 2 Maret 2011 bertempat di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan. Rombongan tim Cluster Toraja dipimpin oleh Bapak Aris Sitaba, Direktur Usaha Pariwisata, Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kemenbudpar, dan ketua Tim Cluster Toraja Bapak Setiawan, yang didampingi oleh Ir. Ina Herliana Koswara MSc., Undhan Sensivari dan Stella Veronika. Hadir pada pertemuan tersebut Bapak Andy M Said -Ketua Badan Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Provinsi Sulawesi Selatan beserta stafnya.

Pertemuan diawali dengan laporan dan penjelasan singkat tentang program DMO Cluster Toraja oleh Bapak Aris Sitaba, yang sekaligus memperkenalkan anggota tim, dan kegiatan yang akan dilakukan oleh tim dalam pelaksanaan program DMO ini. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan keinginan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata akan dukungan dari Provinsi Sulsel khususnya terkait pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Provinsi yang akan mendukung program DMO ini, maupun kelengkapan data dan informasi yang dibutuhkan tim dalam melaksanakan program DMO di Cluster Toraja.

Kadisbudpar Provinsi Sulsel Bapak Suaib Mallambossi menyambut baik kedatangan tim dan sangat mendukung program ini. Diharapkan agar tim tetap berkoordinasi dengan Disbudpar Provinsi Sulsel, dengan penjelasan lebih rinci terkait SOP tim pokja provinsi -siapa saja yang akan dilibatkan, apakah akan ada SK nya, job des tiap pokja), untuk bahan pelaporan ke Gubernur Sulsel.

Pak Said (Ka BP3 Sulsel) juga sangat mendukung program DMO ini. Pada kesempatan tersebut beliau menjelaskan tentang living culture Toraja yang menjadi daya tarik pariwisata Toraja, yang intinya terdiri dari 7 unsur budaya yaitu tongkonan dan alangsura, rante, liang (penguburan), hutan bambu, sawah adat, tempat penggembalaan, serta pasar hewan. Ini semua menjadi daya tarik pariwisata Toraja. Pemerintah/industri pariwisata diharapkan dapat mengemas potensi budaya ini sesuai dengan keinginan masyarakat.

Pertemuan singkat ini diakhiri dengan tim Cluster Toraja yang kemudian melanjutkan perjalanannya ke Toraja.

Pada keesokan harinya tim Cluster Toraja mengadakan pertemuan dengan pihak Disbudpar Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara di Hotel Sahid Toraja, Makale. Rapat dihadiri oleh Direktur Usaha Pariwisata-Kemenbudpar, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toraja Utara, serta perwakilan asosiasi PHRI Toraja, dan tim DMO Cluster Toraja.

Acara dibuka dengan sambutan dan penjelasan dari Bapak Aris Sitaba tentang tata kelola destinasi atau Destination Management Organisation (DMO), dimana Toraja merupakan salah satu cluster destinasi yang di tahun 2011 ini diprogramkan untuk dibentuk di Toraja. Diharapkan melalui DMO, masyarakat menyadari bahwa pariwisata dapat meningkatkan taraf hidup dan kebanggaan mereka, bukan hanya kebanggaan akan living culture mereka namun juga ada nilai-nilai ekonomi yang bisa diperoleh dari pariwisata, selain manfaat lingkungan dan sosial budaya lainnya.

Selanjutnya disampaikan paparan oleh tim ahli Cluster Toraja (Ir. Ina Herliana Koswara, MSc.) yang menjelaskan secara singkat tentang Tata Kelola Destinasi, dan dilanjutkan dengan penjelasan rencana kegiatan pembentukan DMO di Toraja. Program yang dimulai di tahun 2011 ini direncanakan akan berlanjut hingga tahun 2014 dengan beberapa tahapan kegiatan dari mulai tahap kelayakan studi dan sosialisasi konsep, tahap dukungan kemitraan terhadap DMO, tahap pembentukan dan legalisasi DMO, hingga tahap operasional dan evaluasi DMO.

Dijelaskan pula bahwa di tahun 2011 ini, program DMO Toraja baru dalam tahap kajian, dimana diperlukan beberapa pertemuan dengan stakeholder untuk mengetahui aspirasi mereka sekaligus identifikasi stakeholder yang menjadi key person dalam pengembangan kepariwisataan Toraja untuk diundang dalam diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion/FGD) nantinya. FGD dengan stakeholders direncanakan akan dilaksanakan di Rantepao, Toraja pada Bulan April atau Mei 2011.

Bapak Lexianus selaku Kadisbudpar Kab. Tana Toraja menyampaikan kesiapan dan dukungannya untuk melaksanakan program-program yang akan dilakukan terkait dengan DMO ini. Saat ini menurut beliau, masih banyak masyarakat sekitar daya tarik wisata yang belum memperoleh manfaat dari pariwisata. Nantinya, masyarakat yang sebaiknya terlibat dalam DMO adalah para pemimpin adat atau pemuka masyarakat yang akan dipakai untuk merumuskan seperti apa DMO yang akan diaplikasikan di Toraja.

Sementara itu Pak Yakin Tandirerung SH, Kadisparbud Kab. Toraja Utara menyampaikan permasalahan terkait karakteristik sosial budaya masyarakat Toraja yang memiliki living culture yang berbeda. Yang harus ditumbuhkan dari DMO Toraja adalah keinginan masyarakat sendiri untuk melestarikan living culture mereka.

Beberapa permasalahan awal juga dimunculkan dalam diskusi ini dari peserta yang hadir, yang meliputi :

Aksesibilitas, khususnya aksesibilitas eksternal, dari luar wilayah menuju Toraja yang cukup jauh dan melelahkan, sementara penerbangan Makassar-Toraja saat ini sudah tidak berjalan lagi.
Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan arti penting dan manfaat dari kegiatan pariwisata. Saat ini masyarakat umum belum sepenuhnya merasakan manfaat dari adanya pariwisata. Perlu sosialisasi dan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Toraja akan arti penting dan manfaat pariwisata yang dapat dinikmati oleh semua lapisan melalui tokoh adat/tokoh masyarakat.
Belum terjadwalnya pelaksanaan upacara masyarakat Toraja (eg. rambu tuka, rambu solo) secara lebih pasti dan terpublikasikan secara luas. Pelaksanaan upacara adat kurang terpublikasikan, karena masyarakat belum merasa harus memberitahukan jadwal upacara kepada pihak pemerintah/industri pariwisata, selain karena ketidakpastian kedatangan sanak keluarga mereka. Akibatnya pihak pemerintah dan industri pariwisata sulit untuk menawarkan pelaksanaan upacara ini kepada wisatawan/biro perjalanan.


Diskusi pertama ini diharapkan dapat memberikan penjelasan awal tentang kegiatan program DMO yang akan dilaksanakan di Toraja, yang tentunya akan ditindaklanjuti dengan pertemuan-pertemuan berikutnya yang lebih mendalam dan dihadiri oleh pemangku kepentingan lainnya di Toraja.
BACA SELENGKAPNYA..

Rabu, 08 Juni 2011

Rp 500 Milliar dari Dana APBN-APBD disiapkan untuk Rampungkan Bandara Tana Toraja

Guna merampungkan revitalisasi Bandara di Buntu Kuni, Kec. Mengkendek Kab. Tana Toraja, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah mengusulkan anggaran Rp 500 miliar yang diambil dari dana APBD dan APBN.

Andi Masykur Sultan, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Propinsi Sulawesi Selatan, pada saat melakukan kunjungan kerjanya ke Singapura–Malaysia bersama Gubernur Sulawesi Selatan dan beberapa Muspida Sulawesi Selatan, Jumat (3/6/2011) mengatakan, saat ini proses tender telah berjalan dan segera melanjutkan proyek pengerjaan pengembangan kawasan.

Pemerintah Provinsi juga mengharapkan di tahun 2014 mendatang, bandara yang akan dijadikan pintu masuk wisatawan itu bisa rampung. Luas lahan Bandara di Tana Toraja yang merupakan pindahan dari Bandara Pongtiku di Rantetayo mencapai 225 hektare dengan panjang runway 1.900 meter.

Ini merupakan lahan baru karena Bandara Pongtiku dianggap sudah tidak layak karena tidak bisa dikembangkan dengan terbatasnya lahan. Lokasi Bandara baru ini akan dipindahkan ke Bonto Kunek, Kecamatan Makendek, Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Anggaran untuk pembangunan Bandara ini, dikucurkan bertahap untuk lima tahun ke depan. Bandara ini akan menjadi bandara kedua terbesar di Sulawesi Selatan karena diperuntukan bisa melayani pesawat jenis Boing 737-100 seater untuk penerbangan regional.

Bandara ini memiliki dua runway sehingga berbeda dengan bandara perintis yang ada di Sulawesi Selatan yang hanya memiliki satu runway dengan panjang antara 900–1.200 meter.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa Bandara Tana Toraja merupakan salah satu prioritas Pemerintah Sulawesi Selatan untuk tiga tahun ke depan dan akan dijadikan destinasi tujuan wisata.

Untuk mencapai Tana Toraja dibutuhkan waktu Sembilan jam. Oleh karena itu, dengan kehadiran bandara tersebut diharapkan bisa terhubung dengan bandara nasional lain sehingga mempermudah kunjungan wisata, tambahnya.

Dengan hadirnya Bandara Tana Toraja ini akan menambah jumlah bandara perintis yang ada di Sulawesi Selatan. Dintaranya yang sudah ada, yakni Bandara Bone, Bandara Sekorampi Luwu, Bandara Masamba Luwu Utara, Bandara Selayar, dan Bandara swasta milik PT Inco di Sorowako Luwu Timur.
BACA SELENGKAPNYA..