Masih Proses, Sa'bara' komi...
Sponsored By : Kecamatan Makale.

Senin, 27 Juni 2011

Tana Toraja menjadi tempat pertemuan tiga rute Celebes Trans Equatoring HDCI

Ketua HDCI Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, menjamu riders HDCI
Salah satu rangkaian kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) Harley Davidson Club Indonesia adalah kegiatan Celebes Trans Equatoring. Munas HDCI tahun ini, yang digelar di Makassar, agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pasalnya 40 riders dari negeri Jiran Malaysia ikut berpartisipasi di arena touring yang direncanakan akan mengambil finish di Makale, Tana Toraja.

Rute yang akan dilalui oleh para peserta adalah : Rute pertama Manado-Tana Toraja yang memulai perjalanannya sejak Minggu 26 Juni lalu. Rute kedua yakni Palu-Tana Toraja start, Senin 27 Juni kemarin. Sementara itu riders HDCI asal kota Makassar akan memulai startnya ke Tana Toraja, Selasa, 28 Juni, hari ini.

Yudi “Ondong” Harsono, Koordinator Munas HDCI 2011 yang membidangi Celebes Touring Equatoring Munas HDCI 2011, mengatakan, khusus riders Makassar berjumlah 75 orang. Mereka berasal dari gabungan bikers tuan rumah dan Jakarta.

“sebanyak 15 peserta dari Jakarta ikut dalam tur rute Makassar,” kata Yudi yang juga adalah Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sulsel, Senin, 27 Juni.

Para riders yang ikut touring ini, kata dia, merupakan anggota HDCI yang sudah terdaftar dan teruji di berbagai even. Mereka memilih rute sesuai kota pilihan masing-masing.

Start dari Manado merupakan pilihan dari Riders asal Negeri Jiran Malaysia memilih start dari Manado, karena rute lebih panjang. Jarak Manado ke Sulsel jauh lebih menantang. Dari sana ada 200 riders, dan 40 di antaranya merupakan riders Malaysia. Sedangkan dari Palu ada 45 orang.

“Ketiga rute akan bertemu di Tana Toraja yang merupakan puncak dari acara touring. Selaku tuan rumah kita mengajak peserta mengunjungi sejumlah tempat wisata. Mulai dari Kete’kesu, Londa dan tempat menarik lainnya,” ungkap Yudi.

Riders diperkirakan tiba, Rabu 29 Juni. Keesokan harinya ada seremoni menghadiri “Rambu Solo” di daerah Makale, Tana Toraja, sekaligus para peserta diterima Bupati Tana Toraja.
BACA SELENGKAPNYA..

Jumat, 24 Juni 2011

Penerima DAK 2010 akan di investigasi oleh Inspektorat Torut

Pelaksanaan proyek pembangunan gedung perpustakaan di sejumlah Sekolah Dasar (SD) yang dilaporkan bermasalah, akan segera mendapatkan kunjungan dari Inspektorat Kabupaten Toraa Utara, dalam rangka melakukan investigasi.

Hal sehubungan dengan adanya laporan dari masyarakat yang mengatakan bahwa sampai dengan Juni 2011, pembangunan perpustakaan di beberapa SD di Toraja Utara belum tuntas. Padalah, Proyek yang menggunakan anggaran dana alokasi khusus (DAK) 2010 itu, seharusnya sudah rampung pada akhir 2011. Sebanyak 50 Sekolah Dasar di Toraja Utara memperoleh bantuan DAK. Dimana bantuan tersebut digunakan untuk kegiatan pengadaan buku pelajaran, alat peraga, dan pembangunan gedung perpustakaan.

Kepala Inspektorat Toraja Utara, yang juga adalah mantan Kepala Dinas Pendidikan Tana Toraja, Asir Tandirerung, mengatakan “Kami akan segera turun ke sekolah-sekolah penerima bantuan DAK yang pembangunan perpustakaannya dilaporkan belum selesai,”katanya. Sementara itu, Daniel Bemba, Anggota Dewan Pendidikan Toraja Utara menyatakan, keterlambatan pembangunan perpustakaan di beberapa SD sangat merugikan siswa. “Kami sangat mendukung Inspektorat melakukan investigasi karena keterlambatan pembangunan gedung perpustakaan sangat merugikan siswa,”tandasnya
BACA SELENGKAPNYA..

Rabu, 22 Juni 2011

Pekerjaan Jalan Proyek TA. 2010 Belum Selesai

Hingga pertengahan 2011 ini, beberapa Proyek T.A 2010 yang seharusnya rampung pada 2010, belum selesai 100%. Anggota DPRD Tana Toraja menemukan sejumlah proyek infrastruktur tahun anggaran 2010 yang sampai dengan pertengahan 2011 ini masih belum selesai

"Salah satu proyek yang dimaksud adalah pembangunan jalan poros Buntudatu- Maliba-Tampo-Uluway di Kecamatan Mengkendek sepanjang tiga kilometer dengan anggaran sekitar Rp1,9 miliar. Proyek tersebut sampai saat ini masih belum selesai 100%." Kata Alexander P Ranteallo, Anggota DPRD Toraja

Menurut Alexander P Ranteallo, tidak maksimalnya pengawasan pemkab menjadi penyebab molornya proyek pemerintah tersebut. Yohanis Sumule, Kepala Inspektorat Tana Toraja mengatakan, Pihak Inspektorat masih proyek pemerintah tahun 2010 yang hingga pertengahan 2011 ini belum rampung. Dia mengatakan akan memberikan tindakan tegas apabila ditemukan proyek yang terbengkalai.
BACA SELENGKAPNYA..

Senin, 20 Juni 2011

Tana Toraja : Tiap Jengkalnya Berisi Warisan Budaya Dunia

Tana Toraja di Sulawesi Selatan yang dilafalkan Tana Toraya oleh penduduknya memang memiliki daya tarik tersendiri. Penulis cukup beruntung karena mendapat undangan dari Hotel Aston Missiliana Toraja untuk menginap di hotel tersebut sembari menikmati suguhan kawasan wisata di Toraja dan upacara "rambu solo" (upacara kematian) ala Toraja yang memang dilaksanakan pada hari tersebut.
Rumah adat khas Toraja di Desa Pallawa, Kabupaten Tana Toraja, atapnya dibuat dari dari susunan bambu. Kini tinggal sedikit warga asli Tana Toraja yang mau menggunakan bambu sebagai atap rumah, digantikan dengan seng karena lebih mudah dan murah.
ana Toraja yang identik dengan upacara kematian dan kabar tentang kuburan-kuburan kuno di sana menjadi kawasan wisata yang unik dan memiliki daya pikat tersendiri.

Tana Toraja di Sulawesi Selatan yang dilafalkan Tana Toraya oleh penduduknya memang memiliki daya tarik tersendiri. Penulis cukup beruntung karena mendapat undangan dari Hotel Aston Missiliana Toraja untuk menginap di hotel tersebut sembari menikmati suguhan kawasan wisata di Toraja dan upacara "rambu solo" (upacara kematian) ala Toraja yang memang dilaksanakan pada hari tersebut.
Rumah adat khas Toraja di Desa Pallawa, Kabupaten Tana Toraja, atapnya dibuat dari dari susunan bambu. Kini tinggal sedikit warga asli Tana Toraja yang mau menggunakan bambu sebagai atap rumah, digantikan dengan seng karena lebih mudah dan murah.
ana Toraja yang identik dengan upacara kematian dan kabar tentang kuburan-kuburan kuno di sana menjadi kawasan wisata yang unik dan memiliki daya pikat tersendiri.

Dengan suhu udara yang ramah dan pemandangan alam yang cantik, tak henti-hentinya rasa takjub memenuhi lubuk hati.
Saat melakukan perjalanan dari Makassar saja, penulis dimanjakan oleh indahnya pemandangan tebing-tebing batu kapur di Maros, hamparan bibir pantai di Kabupaten Barru dan Pare-Pare dan keindahan bukit Buntu Kabobong di Kabupaten Enrekang yang bentuknya-maaf -mirip vagina.

Sayang sekali, saat penulis tiba di Enrekang, hari sudah gelap malam dan sang bukit pun tak terlihat. Jadi penulis hanya dimanjakan oleh lukisan bukit yang terpampang di sebuah restoran kecil yang terletak di kawasan tersebut.
Meski melakukan perjalanan pada malam hari, tetap saja masih banyak hal indah yang bisa dinikmati, sebab bintang-gemintang di langit seolah berlomba menebarkan pesonanya. Lampu-lampu di desa-desa yang letaknya jauh di seberang bukit pun tetap memberikan keasyikan tersendiri untuk dinikmati.
Bersinar Cerah

Setiba di Makale, ibu kota Kabupaten Tana Toraja, penulis sempat terkesima melihat sebuah kolam dengan diameter puluhan meter dan lampu-lampu hias serta air mancurnya yang menawan, seolah menyambut kedatangan setiap orang yang tiba di Makale. Tidak menyangka ada kolam megah dengan lampu yang begitu indah bisa dinikmati jauh di pedalaman sana.
Pagi hari, di hotel, penulis kembali mendapat bonus. Matahari bersinar cerah, sementara lapisan kabut yang menyelimuti kawasan perbukitan di Toraja perlahan pupus. Kicauan burung dan segarnya udara segera membuat penulis kerasan. Segera saja penulis bersama rombongan membuat jadwal rencara kunjungan wisata untuk hari itu.

Sesuai rencana, kawasan pemakaman kuno Londa merupakan tujuan pertama. Londa adalah sebuah kompleks kuburan kuno yang terletak di dalam gua. Di bagian luar gua terlihat boneka-boneka kayu khas Toraja. Goenawan Mohonoharto, seorang aktivis LSM kebudayaan Sulawesi Selatan yang bersedia memandu penulis selama melakukan perjalanan di Tana Toraja, mengungkapkan patung tersebut merupakan replika atau miniatur dari jasad yang meninggal dan dikuburkan di tempat tersebut.
"Miniatur tersebut hanya diperuntukkan bagi bangsawan yang memiliki strata sosial tinggi, warga biasa tidak mendapat kehormatan untuk dibuatkan patungnya" katanya.

Patung-patung tersebut, menurutnya seringkali menjadi incaran para pencuri. "Di Eropa harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah, karena kandungan seni dan nilai kekunoannya," katanya.
Di Londa ini juga terdapat mitos tentang Romeo dan Juliet ala Tana Toraja.
"Konon, dulu ada sepasang kekasih yang tidak direstui hubungannya oleh keluarga. Karena merasa putus asa, keduanya kemudian melakukan bunuh diri bersama terjun dari tebing. Oleh keluarga, mayat mereka kemudian diletakkan di dalam gua secara berdampingan," tuturnya.

Selain Londa, terdapat kuburan lain yang tidak kalah unik yaitu Lemo. Di sini jasad diletakkan di liang-liang dalam sebuah dinding tebing cadas.
"Dulu orang menatah tebing ini selama bertahun-tahun,sehingga jasad orang yang meninggal bisa ditanam di dalamnya. Semakin tinggi letak petinya, berarti strata sosialnya juga makin tinggi," tuturnya.
Menurut seorang tua-tua adat di desa Kete’ Ke’su, Kabupaten Tana Toraja, kuburan tertua justru berada di desa Kete’ Ke’su.
"Sebelum orang mengenal kebudayaan yang lebih maju, orang Toraja menaruh peti-peti mayat di tebing-tebing tanpa menanamnya," katanya.

Saat Pembaruan mengunjungi Kete’ Ke’su, terlihat tulang belulang berserakan di sekitar tebing dan peti-peti kayu yang sudah rapuh dan bolong-bolong sehingga terlihat tulang-belulang menyembul dari dalam peti.
"Peti-peti ini usianya sudah ribuan tahun, lebih tua umurnya jika dibandingkan dengan kuburan di Londa dan Lemo. Makanya sudah terlihat sangat rapuh," katanya lagi.
Selain Lemo, masih ada Kambira, sebuah kompleks kuburan khusus untuk bayi (baby graves). Tidak seperti Londa, Lemo dan Kete’ Ke’su, kuburan bayi di Kambira terletak di sebuah pohon besar. Tampak kotak-kotak persegi hitam menyembul di batang utama pohon.
"Kotak-kotak itu sebenarnya sudah dilubangi dan diisi mayat bayi," ujar Gunawan memberi keterangan.
Desa Adat

Selain mengunjungi kuburan, masih ada beberapa objek wisata yang juga menarik untuk dikunjungi. Desa adat Pallawa misalnya, merupakan desa khas yang masih memiliki 11 bangunan rumah khas Toraja dan 15 lumbung padi khas toraja.
Rumah-rumah beratap susunan bambu tersebut sudah ratusan tahun usianya dan hingga kini masih dipertahankan untuk diperlihatkan pada para turis.
Susunan tanduk kerbau di bagian depan rumah, menjadi aksesoris yang segera saja menarik mata, begitu juga dengan sebaris taring babi yang digantung di dekat langit-langit di pelataran rumah.
"Susunan tanduk kerbau menunjukkan strata sosial pemilik rumah, semakin banyak tanduk berarti semakin kaya karena dia sering mengadakan upacara adat. Sementara taring babi menunjukkan kalau rumah tersebut sudah diupacarakan dalam adat syukuran," tambahnya.

Selain wisata ke kawasan kuburan, kawasan wisata peninggalan kebudayaan megalitikum di Boriparinding juga menarik untuk dikunjungi.
Meski saat penulis tiba disana, hujan lebat mengguyur, namun tetap saja kawasan tersebut tampak menarik, kharisma dan kekokohannya malah tampak bersinar di antara serpihan tetes air yang mengguyur puluhan batu-batu berukuran raksasa tersebut.
Upacara Adat
Bagi yang beruntung, ritual upacara adat seperti "Rambu Solo" (upacara kematian) dan "Rambu Tuka" (upacara syukuran) merupakan momen yang menarik untuk dinikmati.
Menurut penurutan Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Tana Toraja, Lewaran Rantelabi yang ditemui Pembaruan beberapa waktu lalu, kegiatan upacara adat selalu ada di setiap kecamatan, namun waktu tepatnya memang tidak menentu.
"Karena upacara tersebut melibatkan seluruh keluarga, biasanya diselenggarakan di hari libur, agar seluruh keluarga bisa berkumpul," katanya.

Datang ke Toraja tentu tidak sah bila anda tidak membeli suvenir khasnya. Kain khas Toraja (Parambak) yang kaya warna dan motif bisa didapatkan di desa Sadang Tobarana. Aktivitas menenun dan memintal benang yang dilakukan oleh para wanita di desa tersebut juga bisa menjadi sajian wisata tersendiri.
Jika berminat, selembar kain tenun khas Toraja harganya sekitar Rp. 50.00
0-Rp.300.000, tergantung bahan, warna dan jenis motifnya.
"Kalau untuk wisatawan asing harganya bisa berkali lipat lebih mahal," ujar Nenek Pangga, salah seorang perajin yang ditemui Pembaruan.

Kalau anda suka makan, anda tidak akan sengsara di Tana Toraja, suguhan nasi merah, ikan bakar yang dibumbui sambal dabu dabu yang pedas segar, bakso babi serta minuman khas sejenis tuak manis dan minuman balok selalu tersedia di warung makan khas toraja.
"Pokoknya selama di Toraja, wisatawan tidak akan kekurangan objek untuk dilihat, karena Kabupaten Tana Toraja memiliki 147 objek wisata yang sudah diinventarisasi. 77 objek sudah memiliki SK. 22 objek wisata sudah operasional dan akan dibuka beberapa objek yang baru," kata Rantelabi.

Selain itu, Tana Toraja sudah direkomendasikan untuk dijadikan kawasan warisan budaya dunia ke Unesco PBB.
"Menurut para ahli, setiap jengkal di kabupaten Toraja adalah kawasan warisan budaya dunia sehingga harus dilestarikan. Untuk itu, kami sudah merekomendasikan kawasan Tana Toraja untuk dijadikan kawasan warisan budaya dunia ke Unesco agar seluruh umat manusia di dunia ini turut terpanggil dan terlibat dalam usaha pelestariannya," katanya.
Jika ditempuh dari Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan yang jaraknya sekitar 311 km, maka mau tidak mau harus mengunakan moda angkutan darat seperti bus atau mobil angkutan sejenis L300 yang membutuhkan waktu tempuh 7-8 jam, karena moda angkutan pesawat terbang yang dulu pernah beroperasi, kini sudah tak melakukan penerbangan lagi.
Harga tiketnya juga tidak terlalu mahal, hanya Rp 60.000 sekali perjalanan untuk bus ekonomi, sementara untuk bus AC tiketnya Rp 70.000 sekali perjalanan.

Bus menuju Toraja dari Makassar tidak datang tiap waktu karena sudah ada jadwal tetap yaitu pukul 8.00, 10.00, 14.00 dan 22.00, begitu juga dari arah Toraja menuju Makassar. Bila ingin waktu yang lebih fleksibel, bisa menyewa kendaraan semacam L 300. biayanya Rp 300.000 per hari.

Selamat berwisata ke Tana Toraja!
Rieska WULANDARI
BACA SELENGKAPNYA..

Jumat, 17 Juni 2011

Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur SULTENG berlangsung Tegang.

"Right man on the right place", itulah pesan Menteri Dalam Negeri RI, Gamawan Fauzi kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah terpilih, Longki Djanggola-Sudarto, dalam rapat paripurna luar biasa, acara pelantikan pasangan tersebut di Palu. Mendagri mengingatkan untuk menempatkan orang-orang profesional dalam jajaran kabinetnya kelak. sebab kata dia, Sulteng adalah provinsi yang dinilai kaya sumber daya alam, namun miskin pengelolaan. Persoalannya karena sumber daya manusia yang harusnya melakukan pengelolaan tidak maksimal.

"Jangan sampai karena politik, kita menempatkan kepala Dinas PU, orangnya lulusan doktorandus dari IAIN," ujar Gamawan di DPRD Sulteng, Jumat, 17 Juni.

Ikut dalam rombongan Mendagri, Menteri Sosial Saggaf Al Djufri, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo, dua anggota DPR RI dari Fraksi Partai Hanura Akbar Faisal dan Syarifuddin Sudding, serta Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh.

Gamawan Fauzi mengatakan, dia sempat diberitahu bahwa pelantikan akan dilaksanakan di lapangan terbuka. Alasannya, untuk menampung keinginan orang banyak ikut menyaksikan pelantikan tersebut. Wajar saja, lanjut dia, sebab untuk pertama kali dalam sejarah pemilihan Gubernur Sulteng, pasangan tersebut mendapat suara mencapai 54 persen. Catatan Lembaga Survei Indonesia, hanya ada dua provinsi di Indonesia pada pemilihan secara langsung yang pemenang mencapai di atas 50 persen. Yakni Gorontalo dan Sulteng.

"Secara ekonomi, Sulteng mengalami pertumbuhan yang baik bahkan melampaui pertumbuhan Indonesia. Capaian Sulteng hingga tujuh persen pada tahun 2010. Namun, catatan lain indeks pembangunan manusia masih di bawah rata-rata nasional. Ini menunjukkan masih banyak masalah pendidikan, kesehatan dan beberapa aspek sebagai indikator pertumbuhan manusia di Sulteng." kata Gamawan.

Meskipun demikian, Gamawan yakin pasangan Longki-Sudarto dapat menyelesaikan pekerjaan rumah tersebut dengan baik. Sebab, berdasarkan pengalaman, kedua pemimpin tersebut terhitung sebagai orang yang berpengalaman dalam memimpin daerah. Sebelumnya, Longki adalah Bupati Parigi Moutong selama dua periode. Sedangkan Sudarto adalah mantan Bupati Kabupaten Banggai selama dua periode. Terakhir, sebelum menjadi Wagub, Sudarto adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah RI asal Sulteng.

Sementara itu, selama proses pelantikan, pengamanan berlangsung dengan sangat ketat. Ratusan tentara terlihat melapisi seluruh jalan-jalan protokol di kota Palu sejak Kamis malam hingga acara pelantikan usai, Jumat kemarin.

Para TNI yang siaga dengan senjata di tangan itu membuat suasana Kota Palu, terlihat tegang. Aparat keamanan berjaga di setiap sudut kota dan bertambah ketat di seputar kantor DPRD Sulteng. Seluruh aparat bersenjata lengkap.
BACA SELENGKAPNYA..

Kamis, 16 Juni 2011

Tana Toraja Unggulkan Aspek Sosial Budaya dan Keberlanjutan Lingkungan

Penetapan Kawasan Strategis di Kabupaten Tana Toraja didasarkan pada potensi dasar yang dimiliki oleh kawasan tersebut. Keunggulan yang dimiliki oleh Kota Makale dan Makula dalam aspek lingkungan hidup dan sosial budaya menjadi dasar bagi penetapan sebagai Kawasan Strategis Kabupaten pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tana Toraja. Demikian disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Wakatobi Yunus Sirante dalam Pembahasan Progres IV Kegiatan Peningkatan Penataan Wilayah Kabupaten Tana Toraja di Jakarta (1/6).

Makale merupakan ibukota sekaligus salah satu kawasan perkotaan di Kabupaten Tana Toraja. Direncanakan dengan konsep ecocity (kota berbasiskan ekologi) yang berwujud kota taman atraktif dan efektif sebagai sentra informasi, komunikasi, transportasi serta akomodasi pendukung Kawasan Strategis Nasional (KSN) pariwisata Toraja dan sekitarnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, akan dilaksanakan relokasi pasar tradisional, dan bekas pasar tradisional tersebut nantinya dikembangkan sebagai Tourism Center.

Diharapkan Tourism Center ini mampu memerankan Makale sebagai pusat KSN pariwisata dan mewujudkan konsep ecocity. Untuk mengusulkan kawasan strategis di Kabupaten Tana Toraja, perlu didukung oleh bandar udara baru di Buntu Kunyi (Kecamatan Mangkendek). Pengembangan bandar udara akan menjadi faktor pendorong bagi wisatawan untuk dapat mengunjungi Kabupaten Tana Toraja, papar Yunus.

Ditambahkan oleh Yunus, pengembangan Makula difokuskan pada aspek sosial budaya dikarenakan potensi yang dimiliki oleh Makula. Antara lain meliputi kepercayaan Aluk Todolo yang menjaga keharmonisan elemen utama sistem tongkonan dalam menjaga kualitas dan kelestarian kawasan desa; tongkonan kekerabatan Kaero, makam adat di Suaya serta Rante yang mer

upakan obyek wisata unik yang menarik; serta sumber air belerang yang potensial dikembangkan sebagai wisata mandi air panas yang higienis.

Direktur Penataan Ruang Wilayah III Wahyono Bintarto mengungkapkan, diharapkan draft Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang RTRW Kabupaten Tana Toraja dapat segera terselesaikan. Hal ini untuk memenuhi amanat Inpres Nomor 1/2010 tentang Prioritas Percepatan Pembangunan Nasional Tahun 2010. Direktorat Penataan Ruang Wilayah III telah menetapkan target penyelesaian Raperda RTRW Kabupaten Tana Toraja pada akhir Desember 2010. “Sehingga besar harapan agar Raperda dapat segera diselesaikan,” tegas Bintarto


Sumber : www.penataanruang.net
BACA SELENGKAPNYA..

Mahasiswa Tana Toraja diserang massa tak dikenal.

Sejumlah mahasiswa perguruan tinggi Makassar yang tergabung dalam forum mahasiswa Toraja (format) diserang oleh sekelompok pemuda bersenjata tajam, Selasa (14/6/2011) dini hari. Akibatnya kejadian itu salah satu mahasiswa mengalami luka robek pada bagian pipinya akibat sabetan senjata tajam.

Kejadian berawal ketika para mahasiswa Format melintas di Kelurahan Sudiang, usai mengantar jenazah salah satu rekannya dari Bandara Hasanuddin, yang tewas tenggelam di Tanjung Bayam. Ketika itu sejumlah pemuda bersenjata tajam kemudian menghadang mereka dan langsung menyerang dengan menghunuskan samurai kepada salah satu mahasiswa Format.

Para penyerang akhirnya membubarkan diri setelah sejumlah pihak kepolisian mendatangi lokasi dan membubarkan mereka. "Kami tidak mengetahui alasan penyerangan tersebut. kami juga tidak mengenal para penyerang," ujar Irfan (25) salah satu mahasiswa Format ketika berada di Mapolsek Biringkanaya.

Pihak Kepolisan Biringkanaya kemudian mengantar para mahasiswa Format menuju ke asrama mereka untuk menghindari serangan susulan dari para penyerang.

Menurut Kapolsek Biringkanaya Kompol Mursalim, pihaknya masih menyelidiki penyerangan tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa dua saksi telah diperiksa untuk pengembangan kasus penyerangan tersebut.

Sumber : Tribun Makassar
BACA SELENGKAPNYA..