Masih Proses, Sa'bara' komi...
Sponsored By : Kecamatan Makale.

Senin, 07 Maret 2011

Dukung Makale Bersinar, PKK Gelar Aneka Lomba

MAKALE -- Menjadikan Kota Makale bersih dan indah bukan pekerjaan mudah. Perlu didukung kesadaran masyarakat bahwa hidup bersih bagian dari sehat.

Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung pekan lalu telah mendeklarasikan Makale Bersinar. Program ini melibatkan sinergitas dinas, badan, kantor serta PKK. Utamanya dalam rangka Hari Kesatuan Gerak PKK ke-39 dan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat.

Ketua Tim Penggerak PKK Tator, Ny Yariana Allorerung didampingi Sekretarisnya, Dice Kondorura menjelaskan, Hari Kesatuan Gerak PKK ke-39 berlangsung sebulan penuh. Mulai 11 Maret di Plaza Kolam Makale, dan berakhir 21 April 2011 di Gedung Wanita Makale. ''Kegiatan ini dirangkai peringatan Bulan Bakti Gotong Royong an Hari Kartini,'' kata Yariana di Kafe PKK Makale, Jumat (4/3).
Sinergitas unit kerja lingkup Pemkab Tator dengan Tim Penggerak PKK, menurut Yariana, juga diwujudkan dalam bentuk gerakan tanam pohon. Dimulai di Kelurahan Sarira, perbatasan Tator dan berakhir di Kelurahan Botang, 12 Maret 2011.
Selain itu, juga dilaksanakan pelayanan KB, kesehatan dan sunatan massal di 10 kecamatan, utamanya di wilayah masyarakatnya masih kategori prasejahtera.
''Kita juga menggelar lomba pot bunga antarbidang dan unit kerja, dengan kriteria kebersihan ruang kerja kepala bidang, ruang kantor dan lingkungan serta kualitas kembang dan kerapian,'' terangnya.
Ada pula lomba pemanfaatan pekarangan atau HATINYA PKK. Termasuk lomba makanan tambahan kepada balita dan lansia berbahan pangan lokal. Juga sosialisasi prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), cerdas cermat antarkader PKK dan pemahaman tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Yang menarik dari kegiatan ini, menurut Dice Kondorura, adalah lomba karya tulis kader PKK. Temanya, Peranan PKK dalam Pemberdayaan Masyarakat.
''Karya tulis tersebut akan dimediakan, karena merupakan krestifitas kader dan jarang dilakukan daerah lain,'' jelas Dice.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Haris Paridi secara terpisah menjelaskan, penanaman pohon merupakan bagian dari program PKK. Ada sekitar 2.000 pohon yang akan ditanam di lokasi sepanjang 15 kilometer.
''Penanaman pohon ini diprioritaskan di lahan pinggir jalan raya, dengan harapan menambah indahnya pemandangan dan suasana lingkungan Makale yang sedang bersinar. Ada aneka ragam bibit yang disiapkan,'' ujar Haris.
BACA SELENGKAPNYA..

Guru SDN 102 Makale Belajar di Korsel

MAKALE-- Pemkab Tana Toraja tengah membangun kerja sama dengan pemerintah Korea Selatan (Korsel) di bidang pendidikan dan pariwisata. Untuk bidang pendidikan, Korsel akan menulis bahasa Toraja ke dalam aksara Korea dan membantu sarana prasarana pembelajaran serta tenaga pendidik di Toraja.
Tim Korsel yang dipimpin, Prof Ho Young Lee, dari Seoul National University, Depertement Of Linguistic, Korsel telah mengunjungi SDN 102 Makale 5, Senin lalu. Menurut Kadisdik Tana Toraja, Yohanis Titting SPd M.Min, kunjungan itu untuk melakukan pembicaraan berbagai teknis pelaksanaan kerja sama. Sejumlah guru SDN 102 Makale 5 akan dibelajarkan di Korsel, khususnya belajar aksara Korea.
Setelah mereka belajar aksara Korea dan pulang ke Indonesia, para guru tersebut akan menulis bahasa Toraja dengan menggunakan Aksara Korea. Para guru tersebut berada di Korsel selama beberapa bulan, setelah kembali mereka akan memperkenalkan aksara Korea dan menulis bahasa Toraja ke dalam aksara Korea.
Untuk merealisasikan kerja sama itu, Pemkab Tana Toraja membentuk tim melibatkan instansi terkait, seperti disdik, dispar, bappeda, dan dishub, tim ini dikoordinir asisten ekonomi dan pembangunan (ekbang) Setdakab Tana Toraja. 

Sumber : Palopo Pos Edisi : Senin, 7 Feb - 2011
BACA SELENGKAPNYA..

Sabtu, 05 Maret 2011

PEREMPUAN DAN LINGKUNGAN

Sejak awal sejarah manusia, perempuan pada dasarnya telah memberikan kontribusi kepada konservasi, penggunaan dan pengelolaan sumber daya alam. Di seluruh dunia mereka memainkan peran berbeda dari laki-laki: dalam mengelola lahan pertanian, tanaman, binatang dan hutan, dalam mengumpulkan dan mengelola air untuk penggunaan domestik dan pendapatan, dalam pengumpulan dan penggunaan energi terbarukan. Dengan demikian, berarti mereka berkontribusi waktu, tenaga, keterampilan dan visi pribadi untuk keluarga dan pembangunan masyarakat. Pengalaman mereka yang luas membuat mereka menjadi sumber pengetahuan dan keahlian yang tak ternilai dalam hal pengelolaan lingkungan hidup dan tindakan yang tepat.

Komitmen, keberanian, ketahanan dan kesabaran dari jutaan individu dan kelompok perempuan terorganisir di lingkungan mereka adalah luar biasa: ilmuwan perempuan, aktivis perempuan dan perempuan lokal di pedesaan dan perkotaan. Hari demi hari mereka melakukan tugas produksi dan reproduksi mereka, melanjutkan hubungan antara manusia dan lingkungan fisik, sehingga mendemonstrasikan pemahaman mendalam dan pengetahuan teknis mengenai karakteristik ekologi dari lingkungannya :

Ruth Lilongula dari Solomon Islands: “Keanekaragaman hayati adalah sangat inti dari keberadaan kami dalam komunitas kami. Anda tidak dapat mengatakan berapa dolar nilainya karena ini adalah budaya dan kelangsungan hidup kami. Dalam konteks ini keanekaragaman hayati yang tak ternilai… Kami menghargai lingkungan sebagai identitas kami, seperti halnya kami dan warisan yang diberikan kepada kami ... lingkungan kami berarti banyak hal, sebuah kelas, apotik, dan supermarket.” (UNEP/IT, 1999)

“Mungkin tidak ada kelompok masyarakat yang lebih terpengaruh oleh kerusakan lingkungan hidup dibandingkan perempuan miskin desa. Setiap subuh mereka harus berjalan kaki sangat jauh untuk mencari bahan bakar, makanan dan air. Tidak masalah jika perempuan itu sudah tua, muda atau hamil: kebutuhan rumah tangga yang sangat penting harus terkumpul setelah hari yang melelahkan, setiap waktu lebih lama dan lebih membosankan….”(CSE 1985: 172)

Ini hanya beberapa contoh dari banyak sekali yang menunjukkan interaksi perempuan dengan lingkungan. Namun: Diskusi tentang Perempuan dan Lingkungan Hidup telah menunjukkan jumlah perempuan dalam pengambilan keputusan mengenai lingkungan masih sangat terbatas - dengan beberapa pengecualian. Pengetahuan perempuan dan minat mereka sering diabaikan dalam pengambilan keputusan dan perencanaan pembangunan, serta dalam sains dan teknologi; akses ke dan kontrol atas sumber daya terbatas dan terancam; kesehatan dan kesejahteraan mereka adalah yang paling banyak terkena pencemaran dan kerusakan lingkungan.


Sawah Kering, Ratusan Wanita dari Pantura Pungut Sisa Sayuran; Perempuan Pantura Tak Pernah Menyerah. Demikian judul liputan berturut-turut di halaman satu Kompas (1-2/9/3). Meskipun bukan berita baru, berita ini tetap membuat miris. Diberitakan ratusan perempuan dari pantura Jawa Barat beramai-ramai menjadi pemungut sisa sayuran atau buruh pemetik cabai di Pasar Induk Cibitung, Bekasi. Apa yang menimpa perempuan pedesaan? Mengapa kemiskinan menjadi wajah perempuan? Mengapa di bumi yang kaya raya ini, perempuan terjerembab dalam kemiskinan?

Dalam skenario pembangunan patriarki di mana pertumbuhan ekonomi menjadi panglima, nasib rakyat tergantung pada kekuatan modal dari negara maju. Neoliberalisme dengan resep dasar deregulasi, privatisasi, dan liberalisasi sekilas tidak bermakna. Tetapi, implementasi resep ini adalah hegemoni pasar, kekerasan, penindasan, monopoli pasar, aturan perdagangan, pemaksaan pendekatan seragam, dan masif.

Revolusi Hijau sejak tahun 1960-an awalnya berhasil mengantar Indonesia sebagai negara swasembada beras tahun 1984. Sepuluh tahun kemudian, hingga detik ini, kita kembali mengimpor beras. Jelaslah, kita mengalami kerugian material tak terhingga, begitu pula yang imaterial. Kini pertanian tergantung pada teknologi yang diproduksi oleh perusahaan multinasional. Tanah terdegradasi dan mata rantai kehidupan rusak. Sementara harga pupuk makin mahal, harga gabah jarang naik secara signifikan.

Dampak bagi perempuan

Kenyataan menunjukkan, eksploitasi lingkungan secara langsung dan khas berdampak pada perempuan. Kisah ratusan perempuan di atas adalah sepenggal kisah miskinnya perempuan dalam arti luas. Revolusi Hijau memaksa penggunaan bibit unggul sehingga pemilihan bibit yang tadinya dikuasai perempuan kini tersingkir. Pemaksaan jenis tanaman tertentu meminggirkan perempuan karena pengetahuannya atas keanekaan tanaman tidak lagi dihargai. Ditambah mekanisasi intensif, mengabaikan eksistensi perempuan karena tidak diperhitungkan kapasitas, kemampuan, dan struktur tubuhnya.

Penggunaan huller, menyingkirkan pemakaian ani-ani, diganti sabit yang lebih berat sehingga perempuan kehilangan atau bertambah beban pekerjaannya. Perempuan tersingkir ketika peralatan modern diperkenalkan dan diasosiasikan dengan peran laki-laki, sementara akses perempuan pada pengambilan keputusan tetap tak ada.

Demi bertahan hidup, perempuan menjadi buruh tani dengan beban kerja berlebih, upah minim, dan risiko kerja tinggi. Perempuan kemudian terdesak bekerja di sektor yang tak terlindungi dan eksploitatif, yaitu dengan bermigrasi. Inilah yang menjelaskan mengapa kantong kemiskinan pedesaan juga menjadi daerah asal buruh migran, pekerja seks, dan pekerja sektor informal. Perempuan bermigrasi mencari kerja meningkat tajam dalam dekade terakhir. Umumnya terjerembab menjadi korban perdagangan. Selain itu, dalam berbagai konflik lingkungan, perempuan menjadi kelompok paling rentan mengalami kekerasan.
(*)ivon_getrida BACA SELENGKAPNYA..

Jumat, 04 Maret 2011

Tidak Benar Pupuk Gratis Diperjualbelikan

MAKALE-- Isu yang menyebutkan adanya penyelewengan terhadap bantuan pupuk Gratis dari pemerintah pada tahun 2010, dibantah oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP), Bpk Marthen Biu. isu yang merebak adalah bahwa bantuan pupuk gratis tersebut telah diperjual belikan. ditegaskan oleh Kepala BKPP Tana Toraja bahwa bantuan pupuk gratis dari pemerintah tersebut tidak pernah diperjual belikan.

"Memang di akui ada beberapa pupuk gratis yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat atau terlantar" akunya.
ditambahkan Marthen "Kami tidak pernah menyaluran pupuk gratis kepada masyarakat. Karena itu bukan urusan BKPP Tana Toraja," tepis Marthen serius.
Apalagi, kalau ada tudingan yang menyebutkan bahwa penyaluran pupuk gratis itu kemudian diduga dijual ke petani oleh oknum di BKPP Tana Toraja. Marthen Biu menyesalkan tudingan yang tidak berdasar itu, karena akibat tuduhan itu nama baiknya bisa rusak.
"Sekali lagi, tidak ada penyaluran pupuk gratis oleh BKPP Tana Toraja. Terlebih kalau kami dituding menjual pembagian pupuk gratis itu kepada petani, sama sekali tidak benar," papar Marthen.
Untuk diketahui sebelumnya, seperti dilansir koran palopo pos edisi pekan lalu, Abdul Latif Jaelani Hasibuan membeberkan temuannya di lapangan terkait pupuk gratis.
Dalam pengamatannya di lapangan, Hasibuan mengaku menemukan tumpukan pupuk di pos ronda dan di kolong rumah warga yang diduga bantuan pupuk gratis untuk petani dengan kondisi yang sudah rusak karena tidak digunakan petani.
Terkait dengan itu, Hasibuan sangat menyesalkan kejadian itu, karena pupuk ternyata tidak dimanfaatkan yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan produksi pertanian. Hasibuan lalu menduga bantuan pupuk gratis itu, selain salah sasaran juga diduga pupuk itu tidak sesuai kebutuhan masyarakat petani.
"Kami tidak katakan pupuk itu diperjualbelikan oleh oknum BKPP Tana Toraja. Tetapi yang pasti bahwa ada pupuk bertumpuk di pos ronda dan kolong rumah warga yang kami duga itu bantuan pupuk gratis kepada petani," tandas Hasibuan.
Bantuan pupuk disalurkan pemerintah, untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian yang dikelola masyarakat. "Kami tidak pernah menduga atau mengeluarkan pernyataan seperti itu," elaknya.
BACA SELENGKAPNYA..

Rabu, 02 Maret 2011

DISKUSI TERBUKA MENUJU MAKALE "BERSINAR"

Diskusi terbuka menuju Makale "BERSINAR" (Bersih, Indah, Nyaman dan Religius) telah dilaksanakan kemarin, Senin 1 Maret 2011 bertempat di Gedung Wanita. Diskusi ini dihadiri sekitar 150 orang yang terdiri dari Muspida, anggota DPRD, SKPD dalam lingkup Pemkap Tana Toraja, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda, sekolah, perguruan tinggi, kalangan dunia usaha dan unsur masyarakat lainnya.

Dalam pidatonya pembukaannya, Bupati Tana Toraja Theofilus Allorerung,SE, mengatakan bahwa sangat mensupport kegiatan ini dan mengharapkan ini menjadi gerakan bersama antara pemerintah dan masyarakat. Dan berjanji akan memberikan dana sebesar 200 juta rupiah sebagai reward untuk lingkungan yang terbersih yang mana penilaiannya akan dilakukan sepanjang tahun.

Diskusi ini merupakan langkah awal dari rangkaian kegiatan Gerakan Makale Bersinar dan bertindak sebagai fasilitator diskusi Ir. Petrus Nari Toding,M.Si. Diskusi terbuka ini bertujuan untuk sharing mengenai permasalahan lingkungan kususnya sampah yang ada di kecamatan Makale, merumuskan tekad bersama dalam memerangi sampah dan menjaga lingkungan serta mewujudkan strategi dan rencana kerja bersama. (*ivon_getrida) BACA SELENGKAPNYA..

Bupati Ajak Nonton LPI

MAKALE-- Bupati Tana Toraja Theopilus Allorerung SE dan Ketua DPRD Tana Toraja Welem Sambolangi SE menaruh perhatian yang cukup besar terhadap pelaksanaan Liga Pendidikan Indonesia (LPI) tahun 2011. Buktinya, kedua pimpinan daerah tersebut selalu aktif menyaksikan pertandingan sepakbola antar pelajar itu di Lapangan Ulusalu, Kecamatan Saluputti

Selasa, 1 Maret kemarin, baik Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung, SE maupun Ketua DPRD Tana Toraja, Welem Sambolangi, SE kembali nampak menyaksikan secara langsung laga antara kesebelasan SMKN I Makale, berhadapan kesebelasan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Makale, dan antara kesebelasan SMAN I Rantetayo dengan kesebelasan SMK Pati Makale.
Bahkan Bupati akan mengajak para Muspida dan para kepala SKPD se Tana Toraja untuk menyaksikan secara langsung di laga terakhir Grop D yakni antara kesebelasan SMAN 2 Makale akan berhadapan dengan SMA Kristen Makale serta SMA Katolik Makale akan bertemu SMKN I Saluputti yang dijadwalkan Rabu hari ini.
"Besok kami akan ajak semua kepala SKPD dan masyarakat untuk menyaksikan secara langsung laga Grop D yang merupakan laga terakhkir di babak penyisihan LPI. Kami sangat bangga melihat permainan para kesebelasan dan ini membuktikan bahwa LPI akan mampu menjaring bibit sepak bola di Tana Toraja," tandasnya.
BACA SELENGKAPNYA..

Jumat, 25 Februari 2011

Sekda Tunggu SK Mendagri

Jumat, 25 Feb 2011
MAKALE-- Setelah hampir satu tahun jabatan Sekretaris Daerah (SEKDA) Tana Toraja diduduki pelaksana tugas, maka dalam waktu dekat jabatan tersebut akan segera dijabat oleh pejabat definitif .. Hal itu terlihat setelah tiga calon Sekda Tana Toraja mengikuti pemaparan program di hadapan tim Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) Provinsi Sulsel.
Diakui Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung SE, bahwa tiga calon Sekda Tana Toraja, telah mengikuti penyampaian program di hadapan tim Baperjakat provinsi, pekan lalu, di Makassar.
Hasil pembobotan tim Baperjakat terhadap para calon Sekda itu akan dikirim ke Menteri Dalam Negeri untuk proses penerbitan SK pengangkaatan Sekda defenitif.
"Calon yang memiliki bobot nilai tertinggi itu yang diusulkan ke Mendagri untuk penerbitan SK pengangkatan. Jadi kita tinggal menunggu hasilnya saja," ungkap Theopilus Allorerung.
Tiga Calon Sekda Tana Toraja yang telah mengikuti penyampaian program itu, adalah Asisten Pemerintahan dan
Kesra, Enos Karoma SE MH, Staf Ahli Bupati Bidang Hukum, P Karaeng, serta Kepala DPAKKD Tana Toraja, Mayer Dengen.
Ketiganya merupakan pejabat senior dan punya pengalaman panjang dalam dunia birokrasi, sehingga ketiganya dinilai punya kemampuan untuk memanej sekretariat daerah Tana Toraja.
"Siapa pun yang terpilih, itu terserah penilian tim Baperjakat nantinya. Yang pasti ketiganya memenuhi syarat untuk jabatan sekda," ungkap bupati.
Enos Karoma SE MH sendiri, mengaku bahwa setelah mengikuti proses penyampaian program di hadapan tim Baperjakat Provinsi Sulsel, dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada hasil penilaian tim. Yang pasti bahwa Enos Karoma menyatakan siap untuk memenej sekretariat daerah bila dirinya diserahi amanah.
"Pada prinsipnya kami sebagai abdi negara, tentunya selalu siap menjalankan amanah dari pimpinan," ungkap Enos Karoma yang juga mantan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Tana Toraja.
BACA SELENGKAPNYA..